LAKSAMANA Malahayati merupakan seorang panglima perang armada laut yang memimpin perang untuk melawan penjaja, di laut Aceh.
PEREMPUAN Aceh sejak masa kerajaan Aceh Darussalam, memiliki andil yang tinggi. Dimasa perang, konflik sampai masa damai, dalam sejarah dunia Islam, bahkan sejarah dunia secara umum, perempuan ACEH telah berperan menjadi sultan, legislator, panglima perang, dan admiral disamping terkenal lewat peran tradisionalnya.
Perempuan Aceh lebih menonjol peran sosialnya. Ini menjelaskan bahwa perempuan Aceh sangat menyatu dan berkembang dengan lingkungannya. Perempuan Aceh tidak hidup dalam ruang kosong tanpa dimensi.
Demikian posisi perempuan dalam masyarakat Aceh sehingga telah menjadi bahan debat yang bersemangat antara feminis-liberal yang keblinger disatu pihak, dan kalangan konservatif-dogmatif dipihak lainnya. Ironisnya, pelaku dan asal ide pada dua ujung paling ekstrem ini biasanya adalah non-lokal. Perempuan Aceh sendiri jalan terus dengan kiprahnya.
Peran-peran yang dimainkan perempuan Aceh, menariknya, tidaklah melulu peran-peran tradisional semata. Selain menjadi ibu, adik atau kakak yang menenangkan korban konflik atau tsunami lainnya; tetap melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik bagi keluarga dan komunitasnya, perempuan Aceh juga langsung melakukan peran-peran non-tradisionalnya tanpa harus khawatir tentang ruangnya. Mereka merasa nyaman tanpa meributkan cara membangun kenyamanan itu sendiri.
Perempuan Aceh menjadi staf-staf tangguh di berbagai LSM lokal, nasional maupun internasional. Mereka mengepalai kantor, menangani teknologi informasi, logistik dan pendistribusian bantuan kemanusiaan. Perempuan Aceh bisa memimpin rapat-rapat penting, membuat keputusan-keputusan strategis, mengepalai gudang bahan bantuan, menjadi car dispatcher, sampai menjadi tenaga evakuasi manyat. Sangat disayangkan, peran perempuan Aceh yang demikian siginifikan dalam masa darurat, mulai tereduksi lagi saat memasuki tahap rekonstruksi dan rehabilitasi. Seolah-olah ketika tiba pekerjaan perencanaan dan kerja-kerja kebijakan dari belakang meja, seperti di belahan dunia lainnya, perempuan tak bisa lagi berbuat banyak. masih tetap orang-orang non-lokal, boleh kecewa karena tak pernah mendapat tempat dalam gerakan perempuan Aceh. Perempuan Aceh terus aktif dengan kerja nyatanya.
Harapan perempuan Aceh sebernarnya bukanlah pada bekerja seperti yang banyak digambarkan oleh beberapa lembaga perempuan di Aceh tetapih lebih kepada bagaimana kita melepaskan diri dari ketidak bebasan menjalankan sesuatu.
Perang belum selesai kita meyakini bahwa peran perempuan Aceh dalam melahirkan tokoh pemberontak baru yang mengharapkan perubahan telah dilakukan.
SAYA teringat ketika ada nyayian yang dilantunkan oleh sang ibu ketika menina bobokan anaknya.
"alahaido keudoda idang selayang blang kaputoh taloe, berijang rayek poe banta seudang ngat tajak meuprang tabela nanggroe"
Nyanyian yang menyimpan nilai dan pendidikan yang tinggi.