Aceh dan Tantangan Multikulturalisme
Mohammad Alkaf
Abstrak
Aceh yang terlahir sebagai indentitas plural dan jamak telah melalui sejarahnya dengan
panjang dan unik. Aceh tidak tunggal dalam memaknai perjalanan dirinya, karena Aceh
adalah kumpulan keberagaman. Baik itu etnis, ras, suku, agama, sejarah bangsa bahkan juga
pandangan politik. Dimasa-masa awal Aceh, keberagaman ini dapat dimaknai dan
diapresiasi secara positif, sehingga Aceh lahir menjadi titik tolak peradaban bagi wilayah
sekitarnya. Kini kedewasaan tersebut mendapat tantangan, karena Aceh sudah berada pada
fase yang manentukan, pasca konflik dan tsunami. Bahwa kini di Aceh dituntut kembali untuk
menmgelola keberagamannya, seperti masa-masa awal. Pengelolaan secara positif ini
dinamai dengan multikulturalisme. Paham yang menerangkankan akan pentingnya apresiasi
positif terhadap perbedaan, dengan kacamata kesetaraan.
Kata Kunci: Aceh, Tantangan, Multikulturalisme
Pendahuluan
Aceh dalam lintasan sejarah adalah sebuah indentitas yang tunggal, independen serta
unik. Aceh yang memiliki hamparan geografis yang strategis, telah membuat bangsa ini
memiliki keragaman suku, etnis dan juga sejarah.1
Bagi Aceh, keragaman ini telah menorehkan tinta emas dalam perjalannya sejarahnya.
Keberagaman tersebut yang telah membawa Aceh menjadi indentitas yang kosmopolit,
egaliter, progresif terhadap gagasan baru, selama tidak mengganggu indentitas sejatinya.2
Keunikan ini semakin mendapatkan bentuknya, ketika di Aceh, tepatnya di Kerajaan
Samudera Pasai, memeluk agama Islam, bahkan sebagai agama resmi negara. Ajaran Islam
yang menekankan kepada nilai-nilai kemanusiaan, seperti kesetaraan, keadilan, puralisme dan
progresifitas ternyata mendapatkan bentuk yang tepat di Aceh. Karakter inilah yang dibawa
oleh kerajaan di Aceh sesudahnya, seperti kerajaan Peureulak dan Aceh Darussalam yang
bertempat di Banda Aceh. Keberadaan dua kerajaan besar tersebut tetap mewakili semangat
1 Pluralitas keacehan adalah tradisi Aceh itu sendiri, ditampilkan dalam berbagai wajah, baik
suku, etnis dan bahasa. Terlalu sulit untuk mengatakan bahwa Aceh memiliki satu indentitas
mayoritas. Bahkan pasca Perang Aceh pemerintah Hindia Belanda melakukan sensus, tahun 1930
ternyata penduduk Aceh masih sangat plural dengan total 1. 002.900. yang terdiri dari 3.251 orang
Eropa, 976.265 Aceh, yang itu terdiri beragam suku yang telah lama hidup bersandingan, baik itu suku
Aceh, Jame, gayo dan lain-lain. 21. 649 Cina dan 1.735 Timur Asing. Padahal pada tahun 1905 yaitu
usai Perang Aceh, jumlah penduduk (1873-1904) jumlah pendudunya hanya 570.000 jiwa. Di zaman
Kesultanan Aceh, jumlah penduduk diseluruh Aceh berada sekitar setengah juta jiwa. Baca H. Rosihan
Anwar, Perkisahan Nusa: Masa 1973-1986, (Jakarta: Pustaka Gratifipers, 1986) hal. 3.
2 Islam sebagai gagasan dan menjadi agama mayoritas di Nusantara menggunakan Aceh
sebagai pintu gerbangnya. Banyak perdebatan mengenai kedatangan awal Islam di nusantara, akan
tetapi itu semua menhkristal bahwa Aceh adalah daerah pertama di Nusantara yang menerima Islam.
banyak pengamat mengatakan bahwa Islam sudah disebarkan di Aceh pada abad pertama Hijriah. Dan
menjadi “resmi’ pada abad 12-13 Masehi. Ini ditandai dengan adanya makam Sultan Kerajan Pasai,
Malikul shalih tahun 698/1297. Untuk lebih jelas kedatangan awal Islam di Nusantara baca Azyumardi
Azra, Jaringan Ulama timur tengah dan kepulauan nusantara Abad XVII&XVIII: Akar Pembaruan
Islam Indonesia (Jakarta:Kencana, 2004) Hal. 5-19.
62
Islam, sehingga melanjutkan usaha penyebaran Islam yang telah dirintis oleh kerajaan
Samudera Pasai di nusantara3.
Perjalanan keberagaman Aceh ini yang diceritakan dengan begitu baik oleh dinamika
sejarah, yang dengan sendirinya tentu membentuk karakater masyarakat Aceh yang siap
mengapresiasi segala perbedaan secara positif.
Kekuatan ini sendiri sesungguhnya dibentuk oleh penghayatan nilai-nilai keagamaan
yang sudah menjadi budaya keseharian masyarakat Aceh. Inilah sesungguihnya yang
membuat masyarakat Aceh generasi bisa menerima keberagaman, entah itu dari segi etnis,
pandangan agama, sejarah dan ras. Apresiasi positif ini disebut dengan multikulturalisme.
Pembahasan
Pengertian Multikulturalisme
Mengutip S. Saptaatmaja dari buku Multiculturalisme Educations: A Teacher Guide
To Linking Context, Process And Content karya Hilda Hernandes, bahwa multikultrualisme
adalah bertujuan untuk kerjasama, kesederajatan dan mengapresiasi dalam dunia yang kian
kompleks dan tidak monokultur lagi.
Pengertian ini memang sangat relevan dengan keadaan yang multikultur ini.
Pengertian dari Hilda ini mengajak kita untuk lebih arif melihat perbedaan dan usaha untuk
bekerjasama secara positif dengan yang berbeda. Disamping untuk terus mewaspadai segala
bentuk-bentuk sikap yang bisa mereduksi multikulturalisme itu sendiri.4
Keberagaman Etnis
Aceh merupakan hamparan geografis yang luas, dengan kenyataan demikain, maka tidak
heran kalau Aceh memiliki keragaman etnis yang tentu juga keragaman. Budaya, tata nilai,
pengalaman serta kearifan local. Istilah aceh adalah merujuk kepada daerah ujung sumatera.
Penamaan Aceh sering disebut sebagai akronim dari Arab, Cina, Eropa dan Hindia. Lain lidah
3 Penyebaran Islam di Nusantara menjadi kajian yang tetap menarik sampai kapanpun oleh
para peneliti keindonesiaan. Meneliti Islam, di Indonesia tidak akan pernah bisa dilepaskan dari
keberadaan kerajaan Aceh tempo dulu yang telah memberikan peran sentral terhadap pengislaman
nusantara, walau Kerajaan Aceh seperti Smudera Pasai pernah mendapat serangan dari kerajaan Hindujawa
Majapahait tahun 1380, akan tetapi dapat tetap terus eksis dan memberikan sumbangan berarti
perkembangan Islam, ini dibuktikan dengan berdirinya kerajaan Islam pertama di Jawa, yaitu Demak.
Baca Saifuddin Zuhri, Sejarah kebangkitan Islam Dan Perkembangan Islam di Indonesia, (Bandung:
Alma’arif) hal. 194-213. Untuk proses penyebaran Islam di daerah lain baca juga H.M.Zainuddin,
Tarich Atjeh dan Nusantara, (Medan: Iskandar Muda, 1961) hal. 250-262. Penyebaran Islam dari Aceh
ke Nusantara tetap memakai cara damai, sama seperti ketika Islam pertama kali datang ke Aceh.
Ditambah pada saat penyebaran, kerajaan Hindu seperti Sriwijaya dan Majapahit sedang mengalami
kemunduran hebat karena berbagai krisis politik. Sehingga penerimaan Islam di bagian nusantara lain
bersifat akomodatif dan kompromis. Karakteristik utama penyebaran Islam di nusantara ditandai
dengan tarnsformasi intelektual, yang akhirnya membentuk benang merah tradisi ilmiah dan jaringan
ulama nusantara. Baca Azyumardi Azra, Jaringan Ulama...hal. 197-259
4 Ajakan kepada pemahaman yang multikulturalisme sedang giat-giatnya disuarakan oleh para
cendikawan. Dintaranya tercatat M. Amin Abdullah, Pendidikan Agama Era Multikultural-Religius
(Jakarta: PSAP, 2005) dan Abdul Munir Mulkhan, Kesalehan Multikultural:BerIslam Secara Autentik-
Kontekstualk di Arus Peradaban Global (Jakarta: PSAP, 2005).
63
lain pula penyebutan nama daerah ini. Bagi orang Arab menyebutnya Asyi, orang perancis
menyebutnya Achem, orang Ingris menyebutnya Acheen.5
Terlepas dari penamaan nama Aceh yang memang sudah lama sekali ada. Aceh
adalah wilayah yang secara geografis memang strategis karena berada di lintasan selat
malaka. Lalu lintas laut yang sangat strategis menyebabkan aceh menjadi wilayah yang
kosmopolitan untuk segala aspek, dari politik ekonomi dan agama.
Secara politik Aceh sedari dulu memang sudah kosmopolit. Ini ditunjukan dengan
sudah terjalinnya hubungan diplomatik dengan banyak negara-negara dibelahan dunia
lainnya. Secara ekonomi aceh menjadi tempat persinggahan yang strategis oleh pedagangpedagang
manca negara. Hubungan ekonomis inilah yang juga membawa aceh berinteraksi
dengan Islam yang diterima dengan baik oleh penguasa setempat. Interaksi agama inilah yang
membawa Aceh semakin memperluas eksistensinya keluar. Karena saat itu Aceh juga
mendapat legitimasi keagamaan sebab menjadi tempat persinggahan para jamaah haji.
Persinggahan inilah yang membuat Aceh disebut sebagai Serambi Mekkah.
Penerimaan Aceh terhadap Islam juga berpengaruh ke dalam sendi-sendi kehidupan
lainnya. Menakar aceh dalam setiap bagiannya pastilah mesti mengikatkannya dengan Islam.
Dalam kebudayaan misalnya, mulai dari artefak, seni suara, seni tari, arsitektur, seni rupa,
kesustraan, semuanya menyertakan Islam.
Penduduk yang mendiami Aceh beragam suku. Suku aceh, Jame, Gayo, Alas,
tamiang, aneuk jamee, kluet, Singkil, Defayan, dan sigulai.6 Selain itu pula pengaruh duku
bangsa luar juga kuat. Seperti adanya masyarakat aceh keturunan Arab, Tiongha, India serta
Eropa.7
Keberagaman Sejarah
Aceh awalnya terdiri dari Kerjaan kecil yang menguasai daerah-daerah terbatas.
Seperti kerajaan Pasai, Peurelak, Pidie, Takengon dan juga Tamiang. Pada awal abad 16
lahirlah kerajaan Aceh Darussalam yang berada di Banda Aceh. Pada awalnya, kerajaan ini
hanyalah kerajaan kecil yang hanya berkuasa disekitar Aceh besar saja, dengan Ali Mughayat
Syah sebagai Sultan pertama.8
Kerajaan ini semakin membesar ketika mereka meraih kemenangan melawan Portugis
pada bulan Mei 1521. Kekuasaan Aceh Darussalam pada tahun 1524 sudah meliputi daerahdaerah
diluar aceh Besar dengan berhasil ditaklukkannya kerajaan Deli, Daya, Pedir (Pidie)
dan Pasai. Sebenarnya, Kerajaan Aceh Darussalam benar-benar menjadi kekuatan besar
ketika mereka berhasil mematahkan dominasi Portugis di Sumatera.9
5 A. Rani Usman, Sejarah Peradaban Aceh, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003), hal. 19.
6 Ibid,...hal. 38.
7 Ada yang memperkirakan bahwa penduduk asli aceh berasal dari Champa, Kochin-China
dan Kamboja. Ada yang mengatakan karena kedatangan golongan melayu muda yang lebih tinggi
peradabannya, maka bahwa penduduk asli menyingkir jauh kepedalaman, yang dikenal sekarang
dikenal dengan Gayo dan Alas. Untuk lebih jelas baca Tuhana Taufik A, Aceh Bergolak Dulu dan Kini,
(Yogyakarta: Gama Global Media, 2000), hal. 68-69.
8 Tidak jelas kapan Ali Mughayah naik tahta. Akan tetapi makamnya menunjukkan bahwa dia
meninggal pada 7 agustus 1530. Baca Denys Lombard, Kerajaan Aceh..., hal. 49.
9 Perang antara Aceh dan Portugis pertamakali terjadi antara tahun Mei 1521. pada saat
portugis sudah menjalin kerjasama dengan kerajaan Pedir dan Pasai. Sehingga pada perang pertama ini
tidak hanya Portugis saja yang dikalahkan tapi juga kerajaan Pedir dan pasai sekalian. Baca
Muhammad Said, Atjeh Sepanjang Abad, (Medan: Waspada, 1960), hal. 94.
64
Pada tahun 1606 Portugis kembali menyerang Aceh, ketika Aceh sedang mengalami
keadaan yang tidak kondusif karena terjadi pergolakan di dalam negeri. Kekuatan Portugis ini
ternyata lebih kuat dari sebelumnya. Sehingga sebuah benteng Aceh di Krueng Raya berhasil
direbut. Kondisi negara yang berbahaya ini membuat Iskandar Muda yang pada saat itu masih
bernama Perkasa Alam menawarkan diri untuk menumpas Portugis, padahal saat itu dia
sedang menjalani hukuman karena melakukan pemberontakan terhadap sultan.
Keberagaman Pemikiran Keagamaan
Bahwa aceh pernah di kuat pemikikiran syiah dan sunni, ini bisa dilihat dari adanya ulamaulama
seperti al-Sumateratani, Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar-raniry dan Abdul Rauf
Assingkili. Kebergaman ini pernah hidup dengan berdampingan. Secara umum, pemikiran
keagamaan di Aceh adalah syariah dan tassawuf. Islam syariah adalah penafsiran Islam yang
mengedepankan lahiriah, ini diwakili oleh syeikh Nuruddin ar-Raniry, ulama asal India. 10 .
Sedangkan Islam tassawuf yang mengedepankan batiniah diwakili Syamsuddin al-
Sumatrani.11
Persoalan Multikultralisme Aceh.
Sejarah panjang kehidupan masyarakat Aceh yang menghargai multikulturalisme
mendapat tantangan pada masa-masa sekarang. Diawali oleh munculnya Gerakan Aceh
Merdeka (GAM) yang diploklamirkan oleh Hasan Tiro pada tanggal 4 Desember 1976.12
gerakan senjata yang muncul akibat ketidakpuasan terhadap pemerintah Jakarta yang
dianggap telah berlaku tidak adil terhadap Aceh dalam berbagai hal, terutama ekonomi.
Dimana hasil alam Aceh diekploitasi secara besar-besaran, akan tetapi secara bersamaan Aceh
tidak mengalami pembangunan setara dengan hasil alam yang dikeruk.
Kekecewan pada pemerintah pusat juga masih mengendap dengan kuat karena
penyelesaian yang tidak adil terhadap pemberontakan DI/TII. Keistimewaan Aceh sebagai
solusi dari pergolakan Aceh tersebut ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan. Berarti
10 Berbeda dengan Syamsuddin al-Sumatrani yang menganut paham wahdatul wujud,
Nuruddin Ar-Raniry adalah seorang yang lebih mementingkan syariat. Sehingga pada masa awal
pemerintahan sultan Iskandar Tsani terjadi konflik agama antara pendukung ide Syamsuddin al-
Sumatrani dan Nuruddin Ar-Raniry. Dimana pengikut Syamsudin Sumatrani dikejar-kejar dan
karyanya dibakar. Awalnya Nuruddin Ar-Raniry telah mendatangi Aceh pada pemerintahan sultan
Iskandar Muda, akan tetapi dia tidak terima, karena tidak sultan Iskandar Muda lebih memilih
Syamsuddin al-Sumatrani sebagai Mufti kerajaan. Kemudian setelah mangkatnya iskandar Muda dan
digantikan oleh Iskandar Tsani, pada 31 Mei 1637 barulah dia kembali ke Aceh dan mendapat jabatan
sebagai Qadhi Malikul Adil selama 17 tahun, berarti Nuruddin Ar-Raniry juga pernah menjabat Qadhi
Malikul Adil pada pemerintahan Ratu Safiatuddin selama beberapa tahun. Baca Ali Hasjmy, Sejarah…,
hal. 200-201
11 Syamsuddin al-Sumatrani dilahirkan di sumatera pada akhir abad XVI, ulama yang
menganut paham wahdatul wujud ini adalah seorang yang berjasa dalam meendirikan bangunan pikiran
dan ilmu pengetahuan dan politik di kerajaan aceh, sebab Syamsuddin al-Sumatrani adalah seorang
yang fasih dalam filsafat, fikh, tassawuf, sejarah, manthik, tauhid, bahasa arab serta ilmu-ilmi politik.
Baca Ali Hasymi, Sejarah Kebudayaan Aceh (Jakarta: Beuna, 1983), hal. 197.
12 Dipilihnya tanggal tersebut sebagai peringatan atas gugurnya Tgk. Maat Tiro, sepupu
ibunya. Menurut Hasan Tiro,Tgk. Maat Tiro adalah penguasa terakhir kesultanan Aceh. Baca Isa
Sulaiman, Aceh Merdeka: Ideologi, Kepemimipinan dan Gerakan, (Jakarta: Pustaka Kautsar, 2000),
hal. 26.
65
munculnya GAM ini bisa dikatakan sebagai kelanjutan dari pemberontakan DI/TII yang
dipimpin Tgk. M. Daud Beureuh.13
Pemberontakan GAM ini juga dibangun dengan landaskan ideologi nasionalis
keacehan yang dibangun oleh Hasan Tiro. Hasan Tiro yakin bahwa idologi ini lebih
memberikan kekuatan untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintah pusat. Hasan
Tiro juga orang yang sangat percaya akan kekuatan sejarah Aceh yang gemilang. Baginya,
sejarah Aceh adalah identitas sekaligus kekuatan Aceh sendiri.14Untuk arah perjuangan GAM,
Hasan Tiro menulis dalam satu bukunya yang monumental, Demokrasi Untuk Indonesia.
Buku ini menjelaskan bahwa Hasan Tiro menolak bentuk negara kesatuan, bagi Hasan Tiro,
negara kesatuan sanagt tidak relevan dengan keberagaman yang dimiliki oleh wilyah yang
berada di nusantara ini.15
Pemberontakan GAM sendiri mengalami pasang surut. Pada awal deklarasi, gerakan
ini langsung mendapat tekanan dari pemerintah pusat dengan melakukan operasi militer.16
Pada mulanya tekanan ini berhasil membuat kekuatan GAM yang lemah.17 Kondisi ini terus
berlanjut sampai akhir tahun 1980-an. pada akhir delapanpuluhan-an GAM kembali bangkit,
dengan kembali melakukan perlawanan bersenjata. GAM fase itu adalah generasi kedua,
dimana banyak personilnya berasal dari alumni pelatihan militer di Libya. Aksi-aksi militer
dari anggota GAM alumni Libya ternyata lebih kuat dan lebih fariatif.18 Mulai dari
penyerangan pos TNI sampai perampokan Bank BCA. Serangan-serangan yang dilakukan
tentunya membuat kondisi keamanan Aceh kembali dalam keadaan rawan. Keadaan ini
memaksa pemimpin daerah Aceh melakukan tindakan yang lebih gencar untuk menghalangi
semakin meluasnya aksi-aksi GAM tersebut. Akhirnya untuk meredam GAM pemerintah
pusat menetapkan Aceh sebagai Daerah Operasi Militer yang menjadi catatan kelam untuk
sejarah Aceh. Karena selama DOM Aceh menjadi ladang pembantaian kemanusiaan yang
13 keterkaitan gerakan ini adalah “restu terselubung” yang diberikan terhadap Tgk. M. Daud.
Beureuh terhadap Hasan Tiro untuk memimpin gerakan ini. walaupun mendapat restu dari Tgk. M.
Daud Beureuh, Hasan Tiro tidak mendapat dukungan dari mantan pengikut Tgk. M. Daud Beureh di
DI/TII, sebab mereka punya memori yang tidak baik dengan Hasan Tiro ketika bahu membahu
melawan pemerintah Jakarta. Selain itu juga, ideologi yang diperjuangkan oleh Hasan tiro brbeda
dengan apa yang diinginkan oleh mantan pejuang DI/TII yang memilih Islam, bandingkan dengan
hasan tiro yang lebih yakin dengan ideologi nasinalis keacehannya yang kental untuk
14 Salah satu yang membedakan gerakan DI/TII dan GAM adalah tema perjuangan yang
diusung. DI/TII begitu yakin dengan ideologi Islam dan bertahan dengan dalam konteks keindonesiaan.
Sedangkan GAM lebih memilih ideologi nasionalis-sekuler keacehan, karena menurutnya lebih
memungkinkan mendapat bantuan dunia internasional. Yang menariknya, idologi tersebut beranjak dari
romantika perang aceh, lebih tepatnya romantika keluarga Tiro. Ini bisa dilihat dari klaim Hasan Tiro
bahwa dia sebgai pewaris sah tahta kerajaan Aceh.
15 Untuk mengetahui manifesto politik Hasan Tiro baca Hasan Muhammad Tiro, Demokrasi
Untuk Indonesia, (Jakarta: Teplok Press, 1999)
16 Operasi militer ini berhasil menekan kekuatan GAM, sehingga membuat Hasan Tiro
kembali meninggalkan Aceh 28 maret 1979. selain operasi militer, di Aceh juga diadakan kampanye
yang dilakukan oleh komponen pemerintah daerah, KODAM Iskandar Muda dan MUI untuk ditengah
masyarakat untuk mengajak masyarakat menolak kehadiran GAM. Baca Isa Sulaiman, Aceh Merdeka
Ideologi...hal, 25-41. Tgk. M. Daud Beureuh yang dianggap memberi “restu” juga mendapat imbas dari
penekanan terhadap GAM. Pada tanggal 1 Mei 1978 Tgk. M. Daud Beureuh pernah diasingkan ke
Jakarta untuk menghindari kemungkinan meluasnya dukungan untuk GAM karena pengaruh Tgk. M.
Daud Beureuh. Baca M. Nur El-Ibrahimi, Peranan Tgk. M. Daud Beureuh...,hal. 275-280.
17 Yang harus melarikan pada saat operasi TNI bukan hanya Hasan Tiro tapi juga zaini
abdullah dan juga Daud Paneuek pada bulan juni 1981 yang mengikuti jejak Hasan Tiro ke Swedia
sedangkan yang lainnya menetap di malaysia. Baca Isa Sulaiman, Aceh Merdeka Ideologi...,hal. 41.
18 Diantara alumni Libya yang terkenal adalah Muzakkir Manaf, Ishak daud, darwis jeunib dan
Sarjani Abdullah. Majalah Aceh Kita, Agustus 2005, hal. 28
66
terbesar di Indonesia. Ironisnya, kejadiaan terjadi disaat Bangsa ini sedang berada dalam masa
pembangunan.19
Kekuatan GAM juga sempat kembali surut karena operasi militer yang sangat
represif, akan tetapi setelah Indonesia menikmati alam kebebasan sebagai buah reformasi,
GAM kembali muncul. Bahkan menjadi lebih kuat, dari apa yang pernah dibayangkan,
bahkan oleh GAM sendiri.20 Kekuatan GAM ini ternyata dapat dipelihara dengan baik, ini
terlihat dari dua kali periode darurat militer dan darurat sipil. Kekuatan GAM tidak juga
berkurang.21
Darurat militer dan darurat sipil juga telah mengakibatkan kehancuran di berbagai
penjuru Aceh. Dari pembunuhan warga sipil, dibakarnya sekolah-sekolah sampai matinya
roda perekonomian rakyat. Kedaan ini seakan-akan tidak akan pernah berakhir. Sampai Aceh
diguncang gempa dan tsunami tanggal 26 Desember 2004 yang memporak-pandakan Aceh
secara luar biasa. Keadaan ini-lah yang kembali membuat mata dunia internasional kembali
melihat Aceh, yang selama darurat militer dan sipil terisolasi oleh dunia internasional. Walau
pada awalnya perhatian dunia internasional lebih tertuju kepada bantuan kemanusiaan. akan
tetapi lama-kelamaan dialihkan kepada bantuan secara politik, yaitu mengusahakan
perdamaian antara RI-GAM yang telah berkonflik hampir tiga puluh tahun.22
Perdamaian antara RI dan GAM yang fasiltasi oleh CMI, lembaga yang bertempat di
Finlandia, ditandatangani di Helsinki tanggal 15 April 2005 itu telah memberi wajah baru bagi
Aceh dalam menata hidup yang lebih bermartabat dan terhormat. Perdamaian telah memberi
ruang gerak yang luas bagi berbagai pihak di Aceh untuk melakukan perbaikan di berbagai
bidang, dari politik sampai dengan ekonomi.
19 Aksi-aksi kekerasan di Aceh pada akhir tahun 1980-an membuat Gubernur Aceh kala itu
Ibrahim Hasan gundah. Menurutnya ini akan mengganggu stabilitas dan pembangunan yang sedang
digalakkan. Ibid. Hal 78. kini, apa yang dilakuakn oleh Ibrahim Hasan adalah sebagai dosa sejarhnya
yang paling besar. Padahal tidak sepantasnya publik mengarahkan kesalahan kepda dia seorang.
Karenan memang Ibrahim Hasan tidak pernah membayangkan bahwa bantuan militer yang dia minta
akan berbuah pahit seperti itu.
20 Pada awal pendiriannya, GAM tidak lebih dikawal tidak sampai 100 orang dan hanya
memiliki beberapa pucuk senjata. Akan tetapi setelah reformasi, GAM menjadi sangat kuat., bahkan
memiliki simpul-simpul serta taktik perjuangan yang lebih kreatif. Selain itu kekuatan senjata dan
personil GAM semakin bertambah. Ini dapat terjadi karena berbagai sebab. Diantaranya alam
keterbukaan yang semakin lebar, rasa frustasi rakyat atas sikap pemerintah Jakarta dengan militernya
yang sering tidak adil kepada mereka. Secara tepat GAM mampu mencuri simpati masyarakat dengan
menampilkan diri sebagai kelompok yang akan mewujudkan segala keinginan dan impian rakyat., maka
ramailah segala acara-acara GAM dihadiri oleh warga, seperti ceramah propaganda GAM dan
antusiasnya pemuda Aceh untuk bergabung dengan sayap militer GAM. Hala lainnya sperti, sidang
akbar rakyat yang diselenggarkan oleh SIRA pada tanggal 8 November 1999 yang pada akhirnya
melahirkan tuntutan referendum sebagai solusi untuk mengakhiri konflik Aceh. Tentunya desakan dari
yang dikomandoi oleh kelompok sipil tersebut juga sedikit banyaknya membantu GAM dalam
mewujudkan cita-citanya: memerdekakan Aceh! Untuk lebih mengetahui detil tentang segala dinamika
GAM baca Neta S. Pane, Sejarah dan Kekuatan Gerakan Aceh Merdeka: Solusi, harapan dan Impian.
(Jakarta: Grasindo, 2001)
21 Darurat militer diberlakukan di aceh pasca kegagalan berbgai perundingan yang coba di
gagas di luar negeri. Darurat militer yang diikuti dengan darurat militer tahap kedua dan dilanjutkan
dnegan darurat sipil, walau dalam tataran luar seakan-akan mampu membuat GAM bertekut lutut. Akan
tetapi ini salah, sebab GAM masih sangat kuat. Baik secra militer maupun secara politik, terutama
diluar negeri. Kondisi darurat sipil itupun bisa berakhir karena Aceh tertimpa tsumani tanggal 26
Desember 2004 yang lalu dilanjutkan dengan perdamaian Helsenki 15 Agustus 2005.
22 Proses perdamaian memang telah dilakukan sebelum tsunami oleh pemerintah Indonesia
yang baru hasil pemilu 2004. akan tetapi tsunami menjadi pendorong utama. Menurut Raihan ini
merupakan kekuasaan Tuhan yang diatas kuasa manusia, sehingga Aceh kini damai. Wawancara
dengan H. Raihan Iskandar, Lc (wakil ketua DPRD NAD).
67
Selain masalah panjang diatas, Aceh juga dicatat sebagai wilayah yang menghadirkan
ketimpangan sosial. Seperti ada daerah-daerah yang maju, akan tetapi masih juga wilayah di
Aceh yang masih tertinggal. Kondisi ini tentu bisa membuat multikulturalisme terancam.
Bahwa kini, streotip “Aceh pesisir” dan “Aceh Pedalaman” telah ada di kalangan
masyarakat Aceh, sehingga munculah gerakan-gerakan politik seperti ALA-ABAS, yang
menuntut pemekaran propinsi.
Kesimpulan:
Multikulturalisme Sebagai Suatu Kemestian
Memang keterbukaan yang kini telah dinikmati oleh berbagai kalangan dan lapisan
tentu positif, apabila dimaknai dengan baik. Akan tetapi bisa berakibat negatif bila dimakanai
sebagai serba boleh dan kebebasan yang destruktif. Oleh karenanya, Aceh mesti memiliki
kearifan untuk memaknai keberagaman ini dengan multikulturalisme. Dimana
multikulturalisme dimaknai sebagai representasi antropopogis dalam pembentukan bangsa,23
dikarenakan Aceh adalah identitas kebangsaan yang kosmopolit dan plural.
Oleh karenanya, multikulturalisme di Aceh mesti ditempuh dengan memberikan
pendidikan multikulturalisme yang merata ke segala lapisan, baik secara kultural maupun
struktural. Pendidikan multikulturalisme ini mesti bisa menyentuh inti dari persoalan
multikulturalisme ini. Entah multikultural di bidang agama, budaya, cara pandang, sejarah,
dan pengalaman.
Selain dengan pendidikan, jalur kultural juga mesti pula kuat dalam persoalan
multikultralisme. Tentu, pendidikan multikulturalisme di Aceh akan muspra,jikalau jalur
kultural, seperti keluarga, masyarakat, sector pendidikan baik formal maupun non-formal
tidak mendukung.
Yang tidak boleh dilupakan adalah jalur struktural. Bahwa negara, dalam hal ini
Pemda Aceh juga mesti menempatkan multikultralisme sebagai keputusan politiknya. Negara
atau mesti memiliki keputusan politik yang menempatkan keberagaman sebagai potensi
positif dan mesti dimaknai dengan kebijakan politik yang kondusif ke arah multikulturalisme.
23 Moeslim Abdurrahman, Multikulturalisme, Tauhid Sosial, dan Gagasan Islam
Transformatif dalam Zakiyuddin Baidhawi dan M. Thoyibi (ed), Reinvensi Islam Multikultural,
(Surakarta: PSB-PS UMS, 2005), hal. 9.
68
[an error occurred while processing this directive]
Nama :
Teungku Hasan Muhammad di Tiro
Lahir :
4 September 1930, Pidie, Aceh
Orangtua :
Tengku Pocut Fatimah (Ibu), Tengku Muhammad Hasan (Ayah)
Alamat :
Nordsborg, Stockholm, Swedia
Pendidikan :
Fakultas HukumUII, Yogyakarta (1945)
Ilmu Hukum International, Univesitas Columbia
Istri :
Dora keturunan Yahudi Amerika (sudah cerai)
Nama Anak :
Karim Tiro (doktor dan mengajar di AS)
Pengalaman Organisasi :
Pernah aktif dalam Pemuda Republik Indonesia (PRI)
Pernah menjabat Ketua Muda PRI di Pidie pada 1945
Staf Wakil Perdana Menteri II dijabat Syafruddin Prawiranegara
Staf penerangan Kedutaan Besar Indonesia di PBB
Presiden National Liberation Front of Acheh Sumatra
Pengalaman Internasional :
Dinas Penerangan Delegasi Indonesia di PBB,AS, 1950-1954
Ketua Mutabakh, Lembaga Nonstruktural Departemen Dalam Negeri Libya
Pernah kuliah di UGM Yogya
Dianugerahi gelar Doktor Ilmu Hukum University of Plano,Texas
Lulusan University Columbia dan Fordam University di New York
Karya-karya :
Mendirikan "Institut Aceh" di AS
Dirut dari Doral International Ltd di New York
Punya andi di Eropa, Arab dan Afrika dalam bisnis pelayaran dan penerbangan
Diangkat oleh Raja Feisal dari Arab Saudi sebagai penasehat agung uktamar Islam se-Dunia (1973)
mendeklarasikan Aceh merdeka pada 4 Desember 1976
1976-1979 untuk melawan pemerintah Indonesia
Artikel berjudul The Legal Status of Acheh Sumatra under International Law 1980
Terlibat sebuah "federasi" 10 daerah di Sulawesi, Sumatra, dan Maluku perlawanan
terhadap pemerintahan Sukarno
Menggagaskan ide Negara Aceh Sumatra Merdeka,1965
Teungku Hasan Muhammad di Tiro
Profil Hasan Tiro
Hampir 50 ribu tentara dikirim ke Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Uang Rp 1,23 triliun siap dibelanjakan untuk pelaksanaan operasi keamanan di propinsi itu. Pemerintah Jakarta sudah siap menghancurkan kekuatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di “rumah mereka”. Masalahnya, otak gerakan itu, Hasan Muhammad di Tiro, tidak berada di rumah. Hasan Tiro -begitu dia lebih dikenal- berada di Swedia, sebuah negara di belahan Eropa.
Mengirim tentara ke Swedia tentu mustahil. Pemerintah Indonesia pun meminta penguasa di Swedia untuk menghukum Hasan Tiro. Tokoh ini disebut mensponsori gerakan pemisahan diri di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Sayangnya, permintaan itu sepertinya tidak digubris. Mereka beralasan, tidak punya bukti kongrit keterkaitan warga negaranya, Hasan Tiro, dengan GAM.
Siapa Hasan Tiro? Hasan merupakan pendeklarasi kemerdekaan Aceh pada 4 Desember 1976. Dia ikut keluar-masuk hutan bersama pasukannya pada 1976 untuk memisahkan diri dari Indonesia. Perjuangannya itu hanya berlangusng tiga tahun. Karena serangan tentara Indonesia yang tak tertahankan, ia mengungsi ke berbagai negara, sebelum akhirnya menetap di Stockholm, ibukota Swedia.
Setelah jatuhnya Soeharto, isu Aceh merdeka kembali menjadi sorotan dunia. Organisasinya (Gerakan Aceh Merdeka) muncul ke pentas internasional. Hasan Tiro pernah dan menandatangani deklarasi berdirinya Negara Aceh Sumatra, pada akhir 2002. Dia juga menandatangani surat perihal GAM yang dikirim kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan pada 25 Januari 1999. Dalam berbagai perundingan damai antara RI dan GAM, restu Hasan Tiro selalu ditunggu.
Pengakuan orang Aceh terhadap Hasan bukan hanya karena perjuangannya. Dalam tubuhnya mengalir darah biru para pejuang Aceh. Hasan lahir di Pidie, Aceh, pada 4 September 1930 di Kampung Tiro, sekitar 20 km dari Sigli. Dia adalah keturunan ketiga Tengku Syeh Muhammad Saman di Tiro. Hasan merupakan anak kedua pasangan Tengku Pocut Fatimah dan Tengku Muhammad Hasan. Tengku Pocut inilah cucu perempuan Tengku Muhammad Saman di Tiro.
Kepemimpinan dalam birokrasi Aceh merdeka merupakan sebuah takhta yang turun-temurun. Ceritanya berawal dari wafatnya Sultan Muhammad Daud Shah, sultan Kerajaan Iskandar Muda yang terakhir, pada 1874, karena berperang melawan Belanda. Karena anak sultan baru berusia 12 tahun, suksesi macet. Di tengah gentingnya suasana perang, kekuasaan diserahkan ke Tengku Muhammad Saman di Tiro (kakek buyut Hasan di Tiro) sebagai wali negara sekaligus panglima perang.
Karena posisinya sebagai keturunan Tengku Saman di Tiro itulah ia memegang kendali Gerakan Aceh Merdeka. Darah biru itu kemudian diperkaya dengan ilmu hukum internasional yang ditimbanya di Universitas Colombia, Amerika Serikat, hingga meraih gelar doktor. Deklarasi kemerdekaan pada 1976, menghidupkan kembali ide Aceh yang sepenuhnya terpisah dari Indonesia. Pada tahun itu Hasan datang kembali ke Aceh setelah selama 25 tahun meninggalkannya. Di Aceh, sejumlah tokoh yang sebelumnya telah lama bergerilya melawan tentara Indonesia, seperti Daud Paneuk dan Tengku Haji Ilyas Leube, menyambut kedatangan sang pemimpin.
Sikap keras Hasan Tiro yang menolak Indonesia merupakan perubahan besar dibanding era sebelumnya. Sebelum berangkat ke Amerika pada 1950, dia terlibat aktif dalam berbagai organisasi keindonesiaan. Ia, bersama abangnya, Zainul Abidin, aktif dalam Pemuda Republik Indonesia (PRI). Hasan bahkan pernah menjabat Ketua Muda PRI di Pidie pada 1945.
Ketika Wakil Perdana Menteri II dijabat Syafruddin Prawiranegara, Hasan pernah menjadi stafnya. Atas jasa Syafruddin jugalah Hasan mendapat beasiswa Colombo Plan ke Amerika. “Malah sambil kuliah dia diperbantukan sebagai staf penerangan Kedutaan Besar Indonesia di PBB,” kata Isa Sulaiman, sejarawan dari Universitas Syiah Kuala. Artinya, pada suatu periode Hasan pernah menaruh harapan pada Indonesia.
Setelah pecah pemberontakan DI/TII, sikap Tiro mengeras. Dari Amerika, pada 9 September 1954, Hasan Tiro pernah mengingatkan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo agar menghentikan serangan bersenjata kepada aktivis DI/TII di Aceh. Hasan belakangan juga terlibat dalam Republik Persatuan Indonesia, sebuah “federasi” sepuluh daerah di Sulawesi, Sumatra, dan Maluku sebagai perlawan terhadap pemerintahan Sukarno yang sentralistis.
Barulah pada Januari 1965, Hasan menggagaskan ide Negara Aceh Sumatra Merdeka. “Jadi, apa yang dilakukannya dengan memproklamasikan Negara Aceh Merdeka pada 4 Desember 1976 hanyalah kristalisasi dari ide yang sudah disosialkannya sejak 1965,” kata Isa Sulaiman. Ide Aceh Sumatra diambil Tiro dari wilayah Kesultanan Iskandar Muda. Pada masa jayanya kerajaan ini memang pernah sampai menguasai Lampung, Bengkulu, dan sebagian wilayah Malaysia. Dengan kata lain, pembebasan yang ingin dilakukan oleh GAM adalah pembebasan terhadap seluruh Sumatra.
Hasan hingga kini menjadi tokoh sentral dari GAM. Masalahnya, apakah sepeninggal Hasan Tiro, GAM masih akan melanjutkan pola suksesi dan pemerintahan ala kesultanan tersebut? Apakah Karim Tiro (anak Hasan Tiro) akan menggantikan ayahnya jika suatu ketika Hasan Tiro wafat -sesuatu yang akan menjadi persoalan sendiri mengingat Karim berdarah Amerika dan ia tidak dikenal luas oleh masyarakat Aceh?
Terpusatnya kepemimpinan di tangan Hasan Tiro pada gilirannya akan membawa persoalan pada persetujuan politik yang harus dilakukan GAM dengan elemen masyarakat Aceh lainnya. Sementara GAM bukan satu-satunya elemen dalam masyarakat Aceh.
Arif Zulkifli, A. Rulianto, Putri Alfarini