Tuesday, September 1, 2009

Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang Perbedaan Pokok Antara Islam Dan Tasawuf

Manhaj dan jalan Islam berbeda sama sekali dengan manhaj Tasawwuf, dan perbedaan itu mengenai hal yang sangat mendasar. Yaitu perbedaan dalam hal sumber-sumber pengambilan agama dalam aqidah dan syari’ah. Demikian penegasan Abdur Rahman Abdul Khaliq dalam buknya Fadhoihus Shufiyyah (Cemar-cemarnya Sufisme), Maktabah Ibnu Taymiyyah, Kuwait, 1404H/ 1984M, halaman 43.

Dijelaskan, Islam menjadikan sumber pengambilan aqidah terbatas pada wahyu yang diberikan kepada para Nabi dan Rasul saja, yang hal itu yang kita miliki adalah Al-Quran dan As-Sunnah (Hadits Nabi SAW) saja. Adapun agama sufisme (Ad-Dienus Shuufii) –istilah Abdur Rahman Abdul Khaliq– yang mereka jadikan sumbernya adalah bisikan yang didakwakan datang kepada para wali, dan kasyf (terbukanya tabir hingga mereka tahu yang ghaib) yang mereka dakwakan, dan tempat-tempat tidur (mimpi-mimpi), perjum­paan dengan orang-orang mati yang dulu-dulu, dan (mengaku berjumpa) dengan Nabi Khidhir ‘alaihis salaam, bahkan dengan melihat Lauh Mahfudh, dan mengambil (berita) dari jin yang mereka namakan para badan halus (ruhaniyyin).

Adapun sumber pengambilan syari’at bagi ahli Islam adalah Al-Kitab (Al-Quran), As-Sunnah (Al-Hadits), Ijam’ (kesepakatan para ulama terdahulu generasi awal Islam), dan qiyas (perbandingan, yaitu pengambilan hukum dengan membandingkan kepada hukum yang sudah ada ketegasannya dari nash/ teks Al-Quran atau Al-Hadits, dengan syarat kasusnya sama, misalnya beras bisa untuk zakat fitrah karena diqiaskan dengan gandum yang sudah ada nash hadit­snya).

Sedangkan bagi orang-orang tasawwuf, pembuatan syari’at mereka didirikan di atas mimpi-mimpi (tidur), Khidhir, jin, orang-orang mati, syeikh-syeikh, semua mereka itu dijadikan pembuat syari’at. Oleh karena itu jalan-jalan dan cara-cara pembuatan syari’at tasawwuf itu bermacam-macam. Sampai-sampai mereka mengatakan: Jalan-jalan menuju Allah itu sebanyak bilangan nafas makhluk-makhluk. Maka tiap-tiap syeikh memiliki tarekat dan manhaj/ jalan untuk pendidikan dan dzikir khusus, lambang-lambang khusus, dan ungkapan-ungkapan khusus. Maka tasawwuf itu adalah ribuan agama, aqidah, dan syari’at; bahkan ratusan ribu tidak terhitung banyaknya, semuanya itu di bawah apa yang dinamakan tasawwuf.

Dan inilah perbedaan asasi (pokok/ dasar) antara Al-Islam dan tasawwuf. Islam itu agama yang muhaddad (ditegaskan batasan ketentuan) aqidahnya, ibadahnya, dan syari’atnya. Sedangkan tasawwuf itu agama yang tidak ada batasannya, tidak ada pengertian (yang ditentukan secara pasti) dalam aqidah ataupun syari­’at-syari’atnya. Inilah perbedaan yang paling besar antara Al-Islam dan tasawwuf. (Fadhoihus Shufiyyah, hal 43-44).

Garis-garis Besar Aqidah Sufisme

1. Aqidah sufisme mengenai Allah:

Orang-orang tasawwuf percaya kepada Allah dengan aqidah-aqidah yang macam-macam di antaranya al-hulul (inkarnasi, penitisan/ penjelmaan Tuhan dalam diri manusia) seperti pendapat Al-Hallaj (menyebabkan ia memaklumkan dirinya sebagai “kebenaran” dengan ucapan “anal Haq” = Akulah Kebenaran. Al-Haq adalah salah satu nama Tuhan. Dengan perkataannya itu berarti ia mengaku: “Akulah Tuhan.” )

Faham Hulul, faham yang menyatakan, bahwa Tuhan telah memilih tubuh-tubuh manusia tertentu sebagai tempat-Nya, setelah sifat-sifat kemanusiaan dalam tubuh tersebut dihilangkan. Faham Hulul dalam tasawwuf ditimbulkan oleh Husein Ibnu Manshur al-Hallaj (lahir di Persia tahun 858M) yang mengajarkan bahwa: Allah memiliki dua (2) sifat dasar (natur), yaitu sifat ke-Tuhan-an (lahuut) dan sifat kemanusiaan (Nasuut). Hal tersebut dilihat dari teori kejadian makhluk-Nya, sebagai berikut: Sebelum Tuhan menciptakan makhluk, Ia hanya melihat diriNya sendiri. Dalam kesendirian-Nya itu, terjadilah dialog antara Tuhan dengan diriNya.

Dialog yang dalam, tidak terdapat dalam kata-kata ataupun huruf-huruf. Yang dilihat Allah hanya kemuliaan dan ketinggianNya dan Allah pun cinta pada zatNya sendiri. Cinta yang tidak dapat disifatkan dan cinta inilah yang menjadi sebab wujud dan sebab dari yang banyak dan Ia-pun mengeluarkan dari yang tiada, bentuk (copy) diri-Nya, yang mempunyai segala sifat dan namaNya, dan bentuk (copy) tersebut adalah Adam, dan seterusnya. Setelah Adam tercipta dengan cara-Nya, maka Ia sangat mencintai dan memulia­kannya di syurga dan sebagai khalif di bumiNya. (Drs Shodiq SE, Kamus Istilah Agama, CV Sienttarama Jakarta, cetakan kedua, 1988, hal 122-123).

Kemudian akibat pendapatnya yang mengandung kemusyrikan itu maka Al-Hallaj yang lahir di Fars, Parsi (Iran) 244H/ 858M ini dihukum bunuh pada tanggal 24 Zulqa’dah tahun 309H/ 26 Maret 922M, di Baghdad di bawah kekhalifahan Abbasiyah, khalifah ke-18 dari 37 khalifah, Al-Muqtadir bi ‘l-lah (Ja’far Abu ‘l-Fadhl, yang berkuasa pada tahun 295-320H/ 908-932M. Selain Al-Hallaj dituduh membawa paham yang menyesatkan (paham hulul), ia juga dituduh mempunyai hubungan dengan Syi’ah Qaramitah, suatu kelom­pok Syi’ah garis keras yang dipimpin oleh Hamdan bin Qarmat yang menentang pemerintahan Dinasti Abbasiyah sejak abad ke-10 sampai abad ke-11. (lihat Ensiklopedi Islam, Kafrawi Ridwan dkk ed, PT Ichtiar Baru van Hoeve Jakarta, cet V, 1999, huruf H, hal 74-75).

Sumber lain menyebutkan, Al-Hallaj adalah seorang cucu dari penganut Zoroaster, dibesarkan di Irak. Ia ditu­duh kafir, dibunuh dan disalib karena 4 perkara yang dituduhkan kepadanya:

1. Karena berhubungan dengan orang-orang Qaramithah (Syi’ah ekstrim).
2. Karena ucapannya: “Aku adalah Tuhan Yang Haq.”
3. Karena pengikutnya meyakini akan ketuhanan dirinya.
4. Karena pendapatnya tentang haji, bahwa haji ke Baitullah tidak termasuk suatu kewajiban yang harus dilaksanakan.

Dan di antara aqidah sufi yang lain yaitu Wihdatul Wujud (manunggaling kawula Gusti, bersatunya hamba dengan Tuhan, di mana tidak ada pemisahan antara Khaliq dan makhluk. Inilah aqidah yang terakhir yang tersebar sejak abad ketiga Hijriyah sampai hari ini, dan diterapkan akhir-akhir ini oleh setiap tokoh tasawwuf. Yang paling terkenal dalam aqidah ini adalah Ibnu ‘Arabi, Ibnu Sab’in, At-Tilmasani, Abdul Karim Al-Jilli, Abdul Ghani An-Nablisi dan para tokoh tarekat-tarekat sufisme baru pada umumnya. (Fadhoihus Shufiyyah, hal 44, Al-Fikrus Shufi cet 4, hal 58, As-Shufiyyah aqidah wa ahdaf, hal 21, terjemahannya, hal 23-24).

Ada pula aqidah shufi yang namanya Ittihad, yaitu bersatunya seorang sufi (tasawwuf) sedemikian rupa dengan Allah SWT setelah terlebih dahulu melalui penghancuran diri (fana’) dari keadaan jasmani dan kesadaran rohani untuk kemudian berada dalam keadaan baka’ (tetap/ bersatu dengan Allah SWT).

Paham ittihad pertama kali dikemukakan oleh shufi Abu Yazid al-Bustami (meninggal di Bistam, Iran, 261H/ 874M).

Pada suatu waktu dalam pengembaraannya, setelah shalat subuh Yazid al-Bustami berkata kepada orang-orang yang mengikutinya: Innii ana Allah laa ilaaha illaa ana fa’budnii (Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tiada Tuhan melainkan aku, maka sembahlah aku).” Mendengar kata-kata itu, orang-orang yang menyertainya mengatakan bahwa al-Bustami telah gila.

Menurut pandangan para shufi, ketika mengucapkan kata-kata itu, al-Bustami sedang berada dalam keadaan ittihad, suatu maqam (tingkatan) tertinggi dalam paham tasawwuf.

Dalam keadaan ittihad, seorang shufi sering mengucapkan kata-kata yang aneh, seakan-akan ia mengaku sebagai Tuhan, seperti yang diucapkan al-Bustami di atas (Sesungguhnya aku ini Allah, tiada Tuhan melainkan aku, maka sembahlah aku). Al-Bustami juga pernah mengucapkan kata-kata: Subhani subhani, ma a’dhama sya’ni (Maha Suci aku, Maha Suci aku, alangkah Maha Agungnya aku).

Al-Bustami juga berkata: Laisa fi al-jubbah illa Allah (tidak ada di dalam jubah ini kecuali Allah).

Kata-kata seperti itu disebut Syathahat (perkataan –aneh-aneh– yang keluar dari mulut seorang shufi ketika ittihad, menyatu dengan Tuhan). Dalam pandangan shufi, kata-kata itu bukan keluar dari seorang shufi tetapi kata-kata Allah SWT melalui lisan seorang shufi tetapi sedang dalam keadaan ittihad. Bukan Zat Allah SWT yang berbicara, tetapi aspek Allah SWT yang ada pada diri shufi itulah yang sedang berbicara. (lihat Ensiklopedi Islam, huruf I, halaman 286-287).

Betapa jauhnya kepercayaan shufi itu dari Islam. Allah SWT disamakan dengan jin atau syetan yang masuk ke diri manusia hingga manusianya menjadi kesurupan (ke-jin-an/majnun), dan bicaranya ngaco (merancu tak keruan), hanya saja dinamakan syathahat yaitu bicara ngaco namun justru dianggap telah sampai pada tingkatan (maqom) tertinggi –yang mereka tuduhkan– yakni ittihad, menyatu dengan Tuhan. Na’udzubillaahi min dzaalik, dari aqidah yang amat sesat itu.

Lebih jauh salah satu ciri yang biasa diucapkan orang-orang tasawuf yaitu peneyebutan ulama-ulama yang menguasai fikih dan ilmu syara’ sebagai ulama syari’at karena dianggap tidak mengetahui yang batin atau yang ghaib. Sedangkan golongan mereka sepertinya mengetahuinya perihal yang gaib. Padahal Rasulullah saw sendiri tidak mengetahui yang ghaib, bahkan jelas-jelas menegaskan bahwa Nabi tidak tahu apa yang diperbuat Allah untuk Nabi sendiri esok (lihat dalam bab aqidah). Allah berfirman:

“Katakanlah! Tidak ada yang dapat mengetahui perkara ghaib di langit dan di bumi kecuali Allah.” (An-Naml: 65).

Suatau ketika ada sebagian delegasi yang datang ke Nabi SAW, mereka mengang­gap bahwa Nabi termasuk orang yang mengaku bisa melihat yang ghaib, maka mereka menyembunyikan sesuatu di dalam (genggaman) tangan mereka untuk beliau. Dan mereka berkata pada beliau: “Khabarkan pada kami, apa dia (yang ada dalam genggaman kami ini)? Lalu beliau menjawab kepada mereka dalam keadaan berteriak:

“Aku bukan seorang dukun. Sesungguhnya dukun dan perdukunan serta dukun-dukun itu di dalam neraka.” (HR Abu Dawud, 286).

Coba kita kembalikan kepada Al-Quran atau Sunnah Rasul, apakah memang aqidah shufi itu cocok. Aqidah shufi terutama ittihad, hulul, dan wihdatul wujud itu sudah mencampuri urusan keghaiban yang tertinggi, yaitu dzat Allah SWT. Padahal, Nabi SAW telah menegaskan:

“Demi Allah, sesungguhnya aku ini pasti utusan Allah, (tetapi) aku tidak tahu apa yang akan Allah kerjakan padaku esok.” (Hadits Riwayat Al-Bukhari 3/ 358, 6/223 dan 224, 8/ 266 dalam Fathul Bari; dan riwayat Imam Ahmad 6/ 436 dari Ummul ‘Ala’ Al-Andhariyah dengan semacamnya).

2. Aqidah Shufi Mengenai Rasulullah SAW

Sufisme dalam hal mempercayai Rasulullah juga ada bermacam-macam aqidah. Di antaranya ada yang menganggap bahwa Rasul SAW tidak sampai pada derajat dan keadaan mereka (orang-orang shufi). Dan Nabi SAW (dianggap) jahil (bodoh) terhadap ilmu tokoh-tokoh tasawwuf seperti perkataan Busthami: “Kami telah masuk lautan, sedang para nabi berdiri di tepinya.”

Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, pengarang kitab Ila at-Tashawwuf ya ‘Ibadallaah menisbatkan perkataan tersebut kepada At-Tijani (pendiri tarekat At-Tijaniyah). Lalu Al-Jazairi berkomentar: Kelanjutan ucapan At-Tijani ini bahwa quthub-quthub (wali-wali yang ada di kutub-kutub dunia) shufi itu menurut pendapat mereka lebih tahu dibanding Nabi-nabi tentang Allah dan lebih mengerti tentang syari’atNya yang mengandung kecintaan dan kemarahan.

Di antara mereka (orang-orang shufi) ada yang mempercayai bahwa Rasul Muhammad itu adalah kubah alam, dan dia itulah Allah yang bersemayam di atas Arsy, sedangkan langit-langit, bumi, arsy, kursi, dan semua alam itu dijadikan dari nurnya (nur Muham­mad), dan dialah awal kejadian, yaitu yang bersemayam di atas Arasy Allah. Inilah aqidah Ibnu Arabi dan orang-orang yang datang setelahnya/ pengikutna. (fadhoihus Shufiyyah, hal 44-45, Al-fikrus Shufi, hal 58-59, As-Shufiyyah Aqidah wa Ahdaf, hal 22, terjemahnya halaman 24-25).

3. Aqidah Shufi Mengenai Wali-wali.

Sufisme dalam hal wali-wali juga mempercayai dengan keper­cayaan yang bermacam-macam. Di antara mereka ada yang melebihkan wali di atas nabi. Pada umumnya orang shufi menjadikan wali itu menyamai/sejajar dengan Allah dalam segala sifatnya, maka ia (wali) itu mencipta, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur alam.

Orang shufi membagi-bagi wali menjadi beberapa bagian, ada yang disebut wali Al-Ghauts yang mempunyai kemauan sendiri dalam segala sesuatu di dunia ini, dan ada 4 Wali Kutub yang memegangi pojok-pojok yang empat di dunia ini atas perintah wali Al-Ghauts. Dan ada wali Abdal yang tujuh, masing-masing mempunyai kekuasaan di satu benua dari 7 benua atas perintah wali Al-Ghauts. Dan ada wali Nujaba’, yang mereka itu memiliki kekuasaan di kota-kota setiap wilayah di kota. Di kota-kota, demikianlah seterusnya, maka jaringan wali-wali internasional ini menguasai makhluk, dan mereka punya dewan tempat mereka berkumpul yaitu di Gua Hira’, setiap malam mereka melihat taqdir. Cekak aosnya (pendek kata), dunia perwalian (shufi) itu adalah dunia khurafat (kepercayaan yang menyeleweng dari kemurnian Islam) total.

Ibnu Taimiyyah dalam bukunya yang berjudul Al-Furqan baina Auliya’ir Rahman wa Auliya’is syaithan (perbedaan antara wali-wali Tuhan dan wali-wali syetan) mengatakan bahwa sebagian orang musyrik, baik dari Bangsa Arab, India, Turki, Yunani, maupun bangsa lain, mempunyai kegigihan dalam bidang ilmu, kezuhudan, dan ibadah; namun mereka tidak mengikuti dan tidak beriman kepada para Rasul, tidak membe­narkan berita-berita yang Rasul bawa, dan tidak mentaati perin­tahnya. Orang-orang seperti itu bukanlah orang-orang yang beriman, dan bukan pula wali-wali Allah. Mereka adalah orang-orang yang dihubungi dan dihampiri oleh syetan-syetan. Mereka dapat mengungkapkan beberapa perkara ghaib, atau memiliki beberapa perilaku luar biasa yang merupakan bagian dari sihir. Mereka itu tukang sihir yang dihampiri syetan-syetan. Allah Ta’ala berfir­man:

“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syetan-syetan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa. Mereka menghadapkan pendengaran (kepada syetan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta.” (As-Syu’ara: 221-223).

Mereka bersandar kepada Mukasyafat (penyingkapan perkara- perkara yang ghaib) dan hal-hal yang luar biasa. Apabila mereka tidak mengikuti Rasul, tentu amalan-amalan mereka mengandung dosa seperti kemusyrikan, kedzaliman, kekejian, sikap berlebihan, atau bid’ah dalam ibadah. Mereka dihampiri dan didatangi syetan-syetan, sehingga mereka menjadi wali-wali syetan, bukan wali-wali Ar-Rahman (Tuhan). Allah Ta’ala berfirman:

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Allah) Yang Maha Pemurah (Al-Quran), kami adakan baginya syetan (yang menyesatkan), dan syetan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Az-Zukhruf/ 43:36).

Pengajaran Allah adalah pengajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya saw, yakni al-Quran. Barangsiapa tidak beriman kepada Al-Quran, tidak membenarkan beritanya, dan tidak meyakini kewajiban perintahnya, berarti dia telah berpaling dari Al-Quran, kemudian syetan datang menjadi teman setia baginya.

Seseorang yang selalu berdzikir kepada Allah, baik malam maupun siang, disertai dengan puncak kezuhudan dan kesungguhan beribadah kepada-Nya, namun tidak mengikuti dzikir yang Allah turunkan, yakni Al-Quran, maka dia termasuk wali syetan, meskipun dia mampu terbang di angkasa atau berjalan di atas air. Syetanlah yang membawanya ke angkasa sehingga ia mampu terbang. (Ibnu Taimiyyah, Al-Furqan baina Auliya’ir Rahman wa Auliya’is syaithan, 1396H, hal 11 seperti dikutip Laila binti Abdillah dalam As-Shufiyyah Aqidah wa Ahdaf, Darul Wathan, Riyadh, cetakan I, 1410H, halaman 24-25, dan terjemahan Indonesia Mewaspadai Tasawuf, Wala Press, Bekasi, I, 1416H/ 1995, hal 28-30).

Wali Allah menurut Al-Quran

Wali Allah menurut Al-Quran tidak seperti yang digambarkan oleh orang tasawwuf. Tetapi wali Allah yaitu orang-orang yang beriman dan bertaqwa, seperti yang ditegaskan Allah SWT dalam firmanNya:

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekha­watiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akherat.” (QS Yunus/ 10: 62, 63, 64).

Allah SWT menjelaskan siapa yang dimak­sud dengan wali-wali Allah yang berbahagia itu, dan apakah sebab­nya mereka itu demikian. Penjelasan yang didapat di dalam ayat ini; wali itu ialah orang-orang yang beriman dan selalu bertaqwa. Dimaksud beriman di sini ialah orang yang beriman kepada Allah, kepada malaikatNya, kepada kitab-kitabNya, kepada Rasul-rasul-Nya, dan kepada hari qiyamat, dan segala kepastian yang baik dan yang buruk semuanya dari Allah, serta melaksanakan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang beriman. Sedang yang dimaksud dengan bertaqwa ialah memelihara diri dari segala tindakan yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah, baik hukum-hukum Allah yang mengatur tata alam semesta, ataupun hukum syara’ yang mengatur tata hidup manusia di dunia.

Sesudah itu Allah SWT menjelaskan bahwa mereka mendapat khabar gembira, yang mereka dapati di dalam kehidupan mereka di dunia dan kehidupan mereka di akherat. Khabar gembira yang mereka dapati ini, ialah khabar gembira yang telah dijanjikan Allah melalui Rasul-Nya. Khabar gembira yang mereka dapatkan di dunia seperti kemenangan yang mereka peroleh di dalam menegakkan kali­mat Allah, kesuksesan hidup lantaran menempuh jalan yang benar, harapan yang diperoleh sebagai khalifah di dunia, selama mereka tetap berpegang kepada hukum Allah dan membela kebenaran agama Allah akan mendapat husnul khatimah. Adapun khabar gembira yang akan mereka dapati di akherat yaitu selamat dari kubur, dari sentuhan api neraka dan kekalnya mereka di surga ‘Adn. (Al-Quran dan Tafsirnya, Depag RI, 1985/1986, juz 11, halaman 418-419).

Ada orang yang mengatakan, bahwa wali Allah itu orang keramat, dapat mengerjakan perkara-perkara yang ajaib dan aneh, seperti berjalan di atas air, dapat menerka yang dalam hati orang dan sebagainya. Maka yang demikian itu, bukanlah menurut istilah Al-Quran, melainkan menurut istilah orang tasauf. Bahkan ada juga yang disebut wali Allah, orang yang kurang akalnya, dan ganjil perbuatannya. (Prof Dr H Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim, PT Hidakarya Agung Jakarta, cetakan ke-27, 1988M/ 1409H, halaman 300).

4. Aqidah Shufi Mengenai Surga dan Neraka:

Mayoritas orang shufi (menurut Abdur Rahman Abdul Khaliq, semuanya) berkeyakinan bahwa menuntut surga merupakan suatu aib besar. Seorang wali tidak boleh menuntutnya (mencari surga) dan barangsiapa menuntutnya, dia telah berbuat aib.

Menurut mereka, yang patut dituntut adalah al-fana’ (menghancurkan diri dalam proses untuk menyatu dengan Allah SWT) yang mereka klaim (dakwakan) terhadap Allah, dan melihat keghaiban, dan mengatur alam… Inilah surga orang shufi yang mereka klaim.

Adapun mengenai neraka, orang-orang shufi berkeyakinan juga bahwa lari darinya itu tidak layak bagi orang shufi yang sempur­na. Karena takut terhadap neraka itu watak budak dan bukan orang-orang merdeka. Di antara mereka ada yang berbangga diri bahwa seandainya ia meludah ke neraka pasti memadamkan neraka, seperti kata Abu Yazid al-Busthami (Parsi, w. 261H/ 874M). Dan orang shufi yang berkeyakinan dengan Wahdatul Wujud (menyatu dengan Tuhan), di antara mereka ada yang mempercayai bahwa orang-orang yang memasuki neraka akan merasakan kesegaran dan keni’matannya, tidak kurang dari keni’matan surga, bahkan lebih. Inilah pendapat Ibnu Arabi dan aqidahnya. (Fadhoihus Shufiyyah, hal 46). Seperti disebutkan dalam buku Ibnu Arabi, Fushushul Hukm.

Orang jahil di masa kita sekarang kadang menyangka bahwa aqidah mengenai surga (model shufi) ini adalah aqidah yang ting­gi, yaitu manusia menyembah Allah tidak mengharapkan surga dan tidak takut neraka. Ini tidak diragukan lagi (jelas) menyelisihi aqidah kita yang terdapat di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Allah telah mensifati keadaan para nabi dalam ibadah mereka bahwa:

“Mereka berdo’a kepada Kami dengan harap (roghoban) dan takut (rohaban). Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’.” (QS Al-Anbiyaa’: 90).

Ar-roghob yaitu mengharapkan surga Allah dan keutamaanNya, sedang ar-rohab yaitu takut dari siksaNya, padahal para nabi itu mereka adalah sesempurna-sempurnanya manusia (segi) aqidahnya, keimanannya, dan keadaannya.

Dan (landasan) dari As-Sunnah: Perkataan seorang Arab Badui kepada Nabi SAW:

“Wallahi, sungguh aku tidak bisa mencontoh dengan baik bacaan lirihmu (dandanik –suara tak terdengarmu) dan bacaan lirih Mu’adz. Namun hanya aku katakan, “Ya Allah, aku mohon surga kepadaMu, dan berlindung kepadaMu dari neraka.” Lalu Rasulullah saw berkata: “Sekitar itu juga bacaan lirih kami.” (Hadits Riway­at Ibnu Majah).

Keadaan yang diupayakan oleh orang-orang shufi untuk diwujud­kan yaitu beribadah kepada Allah tanpa mengharapkan (surga) dan tanpa merasa takut (neraka), maka menyeret mereka kepada bencana. Mereka berusaha kepada tujuan yang lain dengan ibadah yaitu yang disebut fana’ (meleburkan diri) dengan Tuhan, dan ini menyeret mereka kepada al-jadzdzab (merasa melekat dengan Tuhan), kemud­ian menyeret mereka pula kepada al-hulul (inkarnasi/penjelmaan Tuhan dalam diri manusia), kemudian menyeret mereka pula pada puncaknya kepada wihdatul wujud (menyatunya Tuhan dengan hamba/manunggaling kawula Gusti). (As-Shufiyyah aqidah wa ahdaf, hal 26-27).

5. Aqidah Shufi Mengenai Iblis dan Fir’aun

Mengenai iblis, kebanyakan orang shufi, khususnya para penga­nut kepercayaan wihdatul wujud, berkeyakinan bahwa iblis adalah hamba yang paling sempurna dan makhluk yang paling utama tauhid­nya. Karena menurut anggapan mereka, iblis tidak mau sujud kecua­li kepada Allah. Dan mereka mengklaim bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa iblis dan akan memasukkannya ke surga. Demikian pula anggapan mereka, Fir’aun adalah seutama-utamanya orang yang mentauhidkan (mengesakan) Allah (muwahhidien). Karena Fir’aun berkata: “Saya adalah Tuhanmu yang tertinggi” maka ia mengetahui hakekat, karena setiap yang wujud itu adalah Allah, kemudian dia (Fir’aun) menurut klaim mereka, telah beriman dan masuk surga. (lihat Syarh Fushushul Hukm, halaman 418, Fadhoihus Shufiyyah

Kader PA dan PD Pimpin Sementara Empat DPRK

BANDA ACEH - Empat kader Partai Aceh (PA) dan Partai Demokrat, Senin (31/8) kemarin, dikukuhkan sebagai ketua dan wakil ketua sementara di empat DPRK, yakni Nagan Raya, Aceh Selatan, Aceh Utara, dan Aceh Timur. Kemarin, para anggota DPRK di empat daerah tersebut secara dilantik dan diambil sumpahnya sebagai wakil rakyat periode 2009-2014.

Di Nagan Raya, sebanyak 25 orang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) setempat untuk masa keanggotaan 2009-2014, Senin (31/8) diambil sumpah oleh Ketua Pengadilan Negeri Meulaboh, Aceh Barat, Kamaluddin SH Mhum, atas nama Ketua Mahkamah Agung RI. Prosesi pelantikan berlangsung di gedung DPRK setempat, Komplek Perkantoran Suka Makmue.

Sedangkan Ketua Sementara dijabat oleh Samsuardi alias Juragan dari perwakilan Partai Aceh, dan jabatan wakil ketua sementara diisi oleh H Ismail Daud yang berasal dari Partai Demokrat. Prosesi pelantikan itu turut dihadiri oleh Bupati Aceh Barat, Ramli MS beserta unsur Muspida Nagan Raya.

Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf dalam sambutan yang dibacakan oleh Bupati Nagan Raya Drs T Zulkarnaini mengharapkan kepada anggota DPRK terpilih, supaya benar-benar menjalankan amanah yang telah diberikan oleh masyarakat untuk meningkatkan pembangunan di wilayah itu, dan menjadi control social yang baik untuk kepentingan masyarakat banyak.

Sementara itu, Ketua Sementara DPRK Nagan Raya, Samsuardi alias Juragan dalam sambutannya mengatakan, pihaknya selaku perwakilan rakyat untuk bisa bekerja sama untuk mensejahterakan dan memakmurkan rakyat di wilayah itu, serta berakhlakul karimah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di sisi lain, kata Samsuardi, pihaknya bersama anggota dewan lainnya akan berusaha semaksimal mungkin untuk meneruskan kepemimpinan lembaga dewan tersebut, meskipun mereka menyadari bahwa tugas yang dijalankan tersebut mengalami banyak keterbatasan dan kekurangan.

Aceh Selatan
Dari Tapaktuan dilaporkan, pelantikan dan pengangkatan sumpah jabatan 30 anggota DPRK Aceh Selatan dilakukan oleh Ketua Pengadilan Negeri Tapaktuan, Kadim SH atas nama Ketua Mahkamah Agung (MA) RI. Selain dihadiri bupati Husin Yusuf, unsur muspida plus, pelantikan anggota DPRK yang baru yang dilangsung di gedung DPRK Aceh Selatan juga ikut dihadiri tokoh masyarakat, pengurus dan ratusan simpatisan partai peserta pemilu.

Prosesi peralihan kursi anggota dewan yang akan bertugas selama lima tahun mendatang berlangsung dalam sidang paripurna istimewa berjalan aman dan lancar serta mendapat penjagaan ketat aparat kepolisian setempat. Acara tersebut berakhir dengan penunjukkan pimpinan sementara. Untuk posisi ketua dipercayakan kepada Zirhan SP dari Partai Aceh, wakil ketua Marsidiq dari Partai Demokrat.

Aceh Utara
Sementara di Aceh Utara, Ridwan bin Yunus, kader Partai Aceh (PA) yang dilantik bersama 44 anggota DPRK lainnya, kemarin, mendapat kepercayaan sebagai Ketua DPRK sementara. Ridwan Yunus tampil ke depan duduk berdampingan dengan Bupati Aceh Utara Ilyas A Hamid dan Wakil Ketua Hj Ida Suryana AMd dari Demokrat. Dalam pidato perkenalan perdana kemarin sangat menggebu-gebu memaparkan berbagai keterangan, termasuk meminta dukungan semua pihak.

Dalam wawancara dengan Serambi, Ridwan mengatakan, dia berminat menjadi dewan dengan keinginan mengetahui lebih jauh tentang kiprah dan kinerja para dewan. “Saya hanya ingin tahu bagaimana cara kerja dewan sehingga sulit ditemui rakyat dan jarang pulang ke kampung,” kata mantan kombatan GAM ini.

Menyinggung tentang program lainnya setelah duduk di kursi dewan, Ridwan mengatakan, pihaknya akan tetap berpihak pada kepentingan rakyat bukan pribadi. “Saya sudah berjanji dengan masyarakat akan melakukan sebaik mungkin dan mencoba merubah pola piker demi pembangunan daerah,” kata Ridwan.

Aceh Timur
Di Aceh Timur, pelantikan dewan kemarin dihadiri sedikitnya 23 anggota dewan lama dan ratusan pengunjung, termasuk kerabat serta keluarga anggota dewan terpilih. Sesuai dengan UU Susduk baru, pimpinan DPRK sementara ditetapkan dari Partai Aceh (PA) dan Demokrat yang memiliki jumlah suara terbanyak pada Pemilu lalu. PA menunjuk Tgk Hasanuddin sebagai ketua sementara dan Mirnawati dari Demokrat sebagai wakil ketua sementara.

Bupati Aceh Timur, Muslim Hasballah yang membacakan sambutan tertulis Gubernur Aceh, pada Rapat Paripurna Istimewa Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Anggota DPRK Aceh Timur periode 2009-2014, di gedung DPRK setempat, mengharapkan agar anggota DPRK terpilih mampu menjalankan janji-janji politik pada saat kampanye secara bertahap kepada konstituennya dalam rangka memakmurkan rakyat.

Amatan Serambi, Sidang Paripurna Istimewa Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Anggota DPRK Aceh Timur periode 2009-2014 dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Dari 35 anggota dewan baru hanya dua orang wajah lama, yakni Muslim Gani (Golkar) dan Mirnawati (PD). Ketua DPRK Aceh Timur periode 2004-2009, Asnawi M Zein dalam sambutan terakhirnya menyampaikan terima kasih kepada pemerintah daerah dan permohonan maaf kepada rakyat Aceh Timur. Turut hadir pada kesepatan tersebut, Bupati Aceh Timur, Muslim Hasballah beserta Wakil Bupati, Nasruddin Abubakar, Dandim 0104 Aceh Timur Letkol Kav Bambang Sugiharto, Kajari Idi Erwindu SH, Ketua MPU Tgk Bukhari Hasan, dan seluruh SKPD serta unsur muspida lainnya.(edi/az/ib/is)

Muzakir Manaf: Dewan jangan Kecewakan Rakyat

LHOKSUKON - Ketua Umum DPP Partai Aceh, Muzakir Manaf mengingatkan seluruh anggota DPRA/DPRK, terutama dari Partai Aceh, untuk tidak sekali-kali mengecewakan rakyat. “Karena mereka dipilih oleh rakyat dengan tujuan hanya ingin ada perubahan dan kepeduliannya terhadap pembangunan daerah. Lebih-lebih bagi anggota DPRK dari Partai Aceh (PA) diharapkan selalu turun ke daerah melihat secara dekat apa yang dibutuhkan masyarakat desa,” ujar Muzakir Manaf.

Pernyataan tersebut disampaikan Muzakir saat dimintai tanggapannya usai Sidang Peripurna Istimewa Pengambilan Sumpah 45 Anggota Dewan Aceh Utara, periode 2009-2014, di gedung DPRK. Didampingi Ketua KPA Wilayah Pase, Tgk Zulkarnaini Hamzah, Muzakir menambahkan, khusus untuk Aceh Utara, harapan masyarakat setempat sangat besar kepada anggota DPRK yang diusung PA. Kenyataan itu dilihat dari jumlah kursi diperoleh mencapai 32 kursi dari 45 tersedia. “Karena itu sangat diharapkan DPRK lebih mengutamakan kepentingan masyarakat ketimbang pribadi,” kata Muzakir dan Zulkarnaini.

Menurut Muzakir, pihaknya optimis anggota DPRK terpilih dan diambil sumpah kemarin akan berhasil membangun daerah sesuai amanah rakyat, namun yang lebih penting adalah adanya kerja sama yang baik sesama dewan dan intansi pemerintah. “Tanpa ada kerja sama antara anggota yang diusung PA dengan sejumlah anggota diusung partai lain, juga tak mungkin akan berhasil dengan sukses sebagaimana harapan rakyat,” ujar Muzakir.

Sementara Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf dalam teks pidato yang dibacakan Bupati Aceh Utara, Ilyas A Hamid, juga mengharapkan dalam menjalankan tugas dan fungsinya dan diminta selalu mengunjungi masyarakat. Program politiknya yang telah disampaikan dalam kampanye hendaknya dapat diperjuangkan secara bertahap dalam membangun masyarakat. Sebagai wakil rakyat tentunya dituntut lebih arif dan bijaksana dalam melaksanakan aspirasi rakyat tanpa pandang bulu dan pilih kasih.

Dalam acara tersebut ikut hadir sejumlah pejabat pemerintah, dan ratusan masyarakat yang memadati beberapa ruang dan di pekarangan gedung dewan dipasang tenda dan TV monitor. Sementara didalam terlihat Komandan Korem 011/Lilawangsa Kol inf Bachtiar, Dandim Aceh Utara Letkol Inf Taufan, Kapolres Lhokseumawe AKBP Zulkifli, Kapolres Aceh Utara AKBP Yosi Muhammartha. Selain itu juga terlihat Walikota Lhokseumawe Munir Usman, Muzakir Manaf, pihak KIP, Panwaslu, dan sejumlah mantan GAM ikut hadir meramaikan acara pengambilan sumpah yang berlangsung dari pukul 10.00 WIB sampai pukul 12.30 WIB.(ib)

Satpol PP Gusur PKL di Jalan Pante Kulu

1 September 2009, 09:40 Kutaraja Administrator
BANDA ACEH - Personel Satpol PP yang dukung aparat TNI/Polri, Senin kemarin mengusur para pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Tgk Chik ante Kulu, Banda Aceh. Penggusuran dilakukan, karena pada jalan persisnya di samping Masjid Raya Baiturrahman tersebut merupakan kawasan terlarang bagi PKL. Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Kasatpol PP/WH) Kota Banda Aceh, Iskandar S Sos kepada Serambi, Senin (31/8) mengatakan, penertiban para pedagang kaki lima itu dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kemacetan lalulintas dan kesemberautan. Apalagi, kawasan itu memang dilarang berjualan bagi PKL.

“Para PKL yang berjualan di sepanjang Jalan Chik Pante Kulu itu sudah disediakan tempat di Lapangan SMEP Peunayong. Tapi, saat menjelang lebaran ini mereka membuka lapak di Jalan Tgk Chik Pante Kulu, kita tidak mentolerir tetap melarang mereka berjualan dengan alasan apapun,” kata Iskandar.

Aksi pembongkaran yang juga melibatkan personel TNI dan Polri itu berlangsung tertib. Bahkan para pedagang lebih memilih membongkar sendiri lapak dagangan ketimbang dibongkar oleh petugas. “Sebelumnya Pemko Banda Aceh juga sudah memberi imbauan kepada mereka (PKL) untuk tidak berjualan lagi dilokasi tersebut. Namun peringatan tersebut tidak diindahkan mereka. Akibatnya, kita terpaksa mengambil tindakan tegas,” sebut Iskandar.

Dikatakan, sebanarnya penempatan PKL itu sudah diatur dalam Qanun No 3 tahun 2007. Dalam Qanun dimaksud, disebutkan bahwa penempatan lokasi bagi pedagang kaki lima sepenuhnya diatur oleh pemerintah. “Jika mereka diberi kesempatan untuk berjualan di Jalan gk Chik Pante Kulu, bagaimana dengan pedagang yang lain yang sampai saat ini masih berjualan di Lapangan SMEP Peunanyong,” tanya Iskandar. Atas pertimbangan itu pula pihaknya dengan tegas meminta para PKL tersebut untuk kembali ke lokasi yang telah disediakan Pemko Banda Aceh itu.

Salah seorang pedagang kepada Serambi mengaku, kesulitan berjualan di Lapangan SMEP. Sebab para pembeli lebih memilih berbelanja ke Pasar Aceh, dari pada harus naik becak untuk berbelanja ke sana. “Selama ini kami tidak memperoleh keuntungan. Untuk itu kami meminta Pemko memberi kami waktu selama bulan Ramadan untuk berjualan di Jalan Tgk Chik Pante Kulu,” pinta pedagang tersebut.(tz)

Tuesday, August 11, 2009

Masyarakat diharapkan dukung peningkatan kualitas pendidikan Aceh

Tuesday, 04 August 2009 20:53
Masyarakat diharapkan dukung peningkatan kualitas pendidikan Aceh
Warta - Aceh
WASPADA ONLINE

BANDA ACEH - Seluruh komponen masyarakat di provinsi Aceh diharapkan mendukung dan berpartisipasi aktif mendorong peningkatan kualitas pendidikan yang sedang dilakukan pemerintah melalui Dinas Pendidikan daerah itu.

"Dukungan masyarakat sangat kita harapkan terkait upaya peningkatan kualitas pendidikan di Aceh. Pemerintah berupaya menyediakan kebutuhan yang diperlukan lembaga pendidikan guna mempercepat program tersebut," kata kepala Dinas Pendidikan Aceh, Mohd. Ilyas di Banda Aceh, malam ini.

Berbagai upaya yang dilaksanakan pemerintah dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di semua jenjang dan wajib belajar (wajar) sembilan tahun terus berlanjut, sementara juga dilakukan wajib belajar pendidikan menengah (wajardikmen).

"Semua ini dapat kita laksanakan karena dukungan dan partisipasi masyarakat membuka kesempatan bagi peningkatan kualitas pendidikan di daerah itu. Aceh tercatat sebagai provinsi pertama di Indonesia yang menerapkan Wajardikmen," katanya.

Oleh karena itu, pembangunan pendidikan berkualitas di provinsi yang dilanda bencana alam gempa bumi dan tsunami 26 Desember 2004 tersebut diperlukan dukungan masyarakat untuk mempercepat program peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh di Aceh.

Partisipasi peserta didik untuk meningkatkan kegiatan belajar juga sangat diharapkan sebagai salah satu garda terdepan dalam proses belajar mengajar. Kalau peserta didik rajin dan tekun mengamalkan pengetahuan yang diberikan, jelas kualitas pendidikan akan meningkat di masa mendatang.

"Jadi, proses peningkatan kualitas pendidikan itu harus didukung semua komponen masyarakat yang secara langsung atau tidak langsung terlibat di dalamnya, termasuk guru yang menjadi salah satu unsur penentu kecerdasan peserta didik," katanya.

Upaya peningkatan kualitas pendidikan di provinsi yang dijuluki "Serambi Mekkah" itu kini diaplikasi dengan konsep bernuansa Islami, termasuk penerapan tulis baca Al-Quran bagi murid Sekolah Dasar (SD) yang diluncurkan gubernur, Irwandi Yusuf belum lama ini.

"Melalui berbagai upaya yang kita lakukan sekarang diharapkan program peningkatan kualitas bidang pendidikan menjadi kenyataan di masa mendatang. Program ini akan terwujud bila masyarakat memberi dukungan sesuai kapasitasnya," demikian Mohd Ilyas.
(dat01/ann)

Kemana Dana Pendidikan Aceh

Aceh yang kaya dengan hasil alam minyak dan gas merupakan daerah utama untuk menompang Indonesia dalam memproduksi perminyakan di dunia. Namun apa hubungannya dengan Pendidikan di Aceh saat ini. Seperti berita yang diturunkan oleh Harian Serambi Indonesia edisi jum’at (21/09) yang diberitakan dengan judul “Rp 813 M Dana Pendidikan Aceh Belum Dimanfaatkan”. Sebuah kejadian tragis yang membentang dan menghalangi kalangan para pelajar kaum pendidik dalam menumbuhkan jati diri untuk pembangunan Aceh kedepan di era pembangunan.

Lebih dari itu, Aceh sendiri mendapatkan dana 30 persen dari hasil minyak dan gas hanya untuk dianggarkan pada pendidikan. Bila dilihat secara perundangan ini menimbulkan pertentangan yang telah melanggar amanat yang tertera dalam UU Nomor 18 tahun 2001 tentang Otsus bagi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Berikut adalah dana anggaran pada tahun 2006 yang lalu yang disalurkan oleh Pemerintah Aceh untuk bidang pendidikan biaya kabupaten/kota sebesar Rp 480 miliar, dengan rincian :

- Dinas Pendidikan Provinsi NAD Rp 161.783.725.408,00,

- Biro Keistimewaan Aceh Rp 20,454 miliar,

- Badan Perpustakaan Provinsi NAD Rp 1,8 miliar,

- Badan Diklat Provinsi NAD Rp 10,5 miliar,

- Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Provinsi NAD Rp 1 miliar,

- Dinas Syariat Islam Provinsi NAD Rp 7,2 miliar lebih,

- Unsyiah Rp 18,7 miliar,

- IAIN Ar-Raniry Rp 8,8 miliar,

- Unimal Rp 7 miliar,

- Politeknik Negeri Lhokseumawe Rp 6,4 miliar,

- STAIN Malikul Saleh Rp 3,5 miliar,

- STPP Negeri Saree Rp 750 juta,

- Politeknik Kesehatan Rp 831 juta lebih,

- SPP SPMA Daerah Kutacane Rp 150 juta,

- SUPM Ladong Rp 300 juta,

- SMTI Rp 100 juta,

- UPTD Balai Pendidikan Tenaga Kesehatan Rp 1,33o miliar,

- UPTD Inkubator Peternakan Saree Rp 300 juta,

- Kabupaten/Kota Rp 228.287.295.859,00.

Dari dana yang dialokasikan memang sangat disayangkan bila dilihat hasil dilapangan yang tidak jelas rimbanya sampai sekarang. Sebenarnya hal seperti inilah yang patut dilirik dan ditinjau ulang oleh Pemerintah Aceh, jangan hanya terpaku selalu dengan pembangunan dan pembangunan untuk menggaet para investor melainkan Pendidikan yang bermutu bagi para generasi muda.

Kenyataan yang jelas saja sampai sekarang sangat terlihat pada kasus Beasiswa Pemda NAD yang belum ada kejelesan setelah proses pemberitahuaan. Sangat-sangat memalukan.[red]

Sunday, August 9, 2009

TOMI SEBAIKNYA TIDAK INVESTASI KE- ACEH

Dalam sebuah acara diskusi terbatas yang dilaksanakan oleh PuAN di darussalam yang di materinya tetang perkembangan perekonomian di Aceh, Ahmadi matanglada selaku direktur PuAN melihat upaya Tomi soehartoe mnginvestasikan kekayaannya ke Aceh sebaiknya dihentikan karena ini mebawa pengaruh buruk bagi psicologi masyarakat aceh yang selama ini telah lelah hidup dalam konflik selama ayah dari tomi tersebut memimpin negara ini.

hal setersebut di ujar ahmadi saat ada pertanyaan dari peserta diskusi. sementara itu Jakarta, Bekasinews.com.- ”Tidak benar informasi bahwa saya membeli rumah di Pondok Indah ketika menangani kasus Tomi Soeharto”, Jawab Antazari Azhar saat menjawab pertanyaan anggota Panitia seleksi KPK, senin siang (3/9) di Hotel Borobudur Jakarta.

Seleksi wawancara Calon Pimpinan KPK hari ini akan mewawancarai sembilan calon pimpinan KPK diantaranya A.M. Krisdarudjati, Drs, Ahmad Helmi, Ak, Amien Sunaryadim AK,MPA, CISA, Antazari Azhar, H, SH,MH, Bibit Samad Rianto, DR,MM, Budi Santoso, SH, LLM, Chandra M. Hamzah, Christianto Wibisono, Drs, Daniel Pangaribuan, SE, AK, MM. Wawancra ini terbuka untuk umum dan bisa diakses melalui layar lebar yang ditempatkan oleh Pansel disalah satu ruangan hotel.

Menurut Antazari, selama dirinya menangani kasus Tomi Soeharto, banyak rumor yang berkembang bahwa dirinya telah menerima uang ratusan juta hingga milyaran rupiah. Rumor tersebut dibiarkan saja berlalu ibaratnya lagu krisdayanti.

Antazari menekan bahwa kebijakannya dalam manangani kasus Tomi Soeharto membuahkan hasil yakni Tomi berhasil diseret kepengadilan.
Diakuinya dirinya pernah menerima hadiah dari seorang ibu saat kasusnya dapat diselesaikan, ”Ibu tersebut datang ke kantor dan memberikan saya Kue” jelas antasari dihadapana Pansel KPK. ”hanya itu yang saya pernah terima” tegasnya kembali.

Sehubungan dengan kasus Bank Bali dengan analisis lemahnya tuntutan Jaksa, Antazari menjelaskan bahwa pada waktu penyelidikan sebagai sok terapi uang tersebut sudah disetor beberapa milyar ke Bank Permata. Kasus Bank Bali ini juga dijadikan tesis S2nya Antazari Ashar dan dirinya kecewa dengan keputusan Hakim yang membebaskan para tersangka. Begitu juga dengan saksi ahli yang dihadapkan di pengadilan, Antazari juga kecewa karena saat di pengadilan saksi tersebut menarik keteranganya.

”Uang yang ada di Bank Permata tersebut sampai saat itu tidak bisa ditarik” jelas Direktur Penuntutan Pidum Kejagung ini. (bn01)

Saturday, August 8, 2009

IRWANDI SAKIT

Kamis, 7 Agustus 2008 | 12:53 WIB

BANDA ACEH, KAMIS - Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Irwandi Yusuf dikabarkan terserang stroke setelah terjatuh sekitar pukul 07.00 WIB, Kamis (7/8) di kamar mandi rumahnya, kawasan Lampriek, Banda Aceh. Tak lama kemudian, mantan Juru Bicara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu diterbangkan ke Singapura untuk menjalani perawatan.

Informasi ini cepat beredar luas dan menghebohkan kalangan pejabat di Banda Aceh. Namun, Irwandi membantahnya. Irwandi bertolak dengan menumpang pesawat carter.

"Siapa yang bilang saya stroke? Dari mana kamu dapat kabar itu? Itu tidak benar. Jangan membuat hebohlah, saya hanya pusing akibat kecapekan dalam dua hari rapat terus-menerus. Saya mau chek-up saja ke Singapura," ujar Irwandi yang sedang berada di dalam pesawat sebelum mengudara menuju Singapura, tepat pukul 11.50.

Dari perbincangan Serambi dengan Irwandi, suaranya masih tegas dan jelas, tidak tertangkap nada gemetar. "Siapa yang bilang saya stroke, biar saya tendang ajalah," kata Irwandi.

Dia membantah isu yang menyebutnya terserang stroke karena terjatuh di kamar mandi rumah pribadi yang dikontraknya sejak menjadi kandidat gubernur, sebelum dilantik 8 Februari 2007. Irwandi lebih sering menempati rumah kontrakan seluas sekitar 600 meter itu daripada menginap di Pendopo, rumah dinas.

Rumah yang berada di kawasan perkampungan penduduk, di depan Rumah Sakit Zainal Abindin, Banda Aceh, sekitar 1 kilometer dari kantor gubernur. Pendopo hanya digunakan ketika menyambut tamu-tamu formal seperti bupati atau wali kota.

Pengalaman Serambi Indonesia bersama Irwandi, dia memang jarang tidur malam. Dia cukup tidur sekitar 3-5 jam, dan larut malam pukul 02.00 sampai pukul 06.00. Waktu istirahatnya agak sedikit, apalagi di aceh selalu banyak tamu, terutama mantan GAM yang meminta kerja dan segala macam. Kantornya selalu penuh, hampir tak ada jeda untuk menerima tamu.

Kepala Bagian Humas Pemerintah Aceh Nurdin Fatah Joes tidak tahu persis kondisi kesehatan Irwandi. "Tapi tadi pagi Pak Gubernur sudah berangkat ke Singapura," ujar Nurdin.

Kamis ini sedianya Irwandi mengikuti rapat koordinasi pimpinan pemerintah daerah yang diikuti segenap unsur Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida), semua bupati dan wali kota se-Nanggroe Aceh Darussalam.

Acara ini dibuka Gubernur, Rabu. Hari ini agendanya adalah setiap bupati/wali kota memaparkan situasi menjelang pemilihan Gubernur 2009. Dan akhirnya dihadiri Wakil Gubernur Muhammad Nazar dan Sekda Provinsi NAD Husni Bahri TOB. (Serambi Indonesia/ Zainal Arifin)

HENTIKAN

BANDA ACEH-Gubernur dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh akan mengadakan dialog terbuka dengan anak-anak pada puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) hari ini (23/7).

Dialog yang dijadwalkan berlangsung selama dua jam itu akan diadakan di Taman Budaya Banda Aceh. Sebanyak 400 anak-anak dari 23 kabupaten/kota diundang untuk berpartisipasi dalam dialog yang terbuka untuk umum ini.

Puncak perayaan HAN yang dipusatkan di Banda Aceh ini terselenggara atas kerjasama UNICEF, Dinas Sosial Propinsi Aceh dan kelompok Child Protection Interagency.

Rangkaian kegiatan hari ini dimulai dengan pertemuan Forum Anak se Aceh untuk membentuk Dewan Anak yang akan berkantor di Sekretariat Bersama Perlindungan Anak di Lamtemen Banda . Nantinya, Dewan Anak yang beranggotakan 2,300 orang anak ini akan disahkan dengan Surat Keputusan (SK) Gubernur Aceh.

"Dewan Anak mudah-mudahan bisa bisa dimanfaatkan menjadi wadah untuk menyuarakan aspirasi mereka dan mempengaruhi setiap kebijakan lokal yang berdampak langsung terhadap kehidupan anak," kata Koordinator Perlindungan Anak pada Dinas Sosial Acehm Farida Zuraini kepada Rakyat Aceh, Selasa (22/7).

Topik-topik dialog antara lain percepatan pengesahan Qanun Perlindungan Anak, anak panti dan anak jalanan dan penciptaan lingkungan yang ramah anak, seperti ruang terbuka untuk tempat bermain anak-anak, zona

ACEH TIDAK MATI

Aceh Tidak Takut Mati
Posted on Monday, 18 May 2009 by Aulia
aceh

image by bahtiar.jeeran.com

Bukan kata sombong dan bangga, dan bukan pula ini yang kita punya. Sekeras apa pun batu tetap bisa retak juga, kata yang sungguh berarti ini adalah Aceh Tidak Takut Mati.

Seberapa banyak anak muda-mudi sekarang yang masing ingat dengan sejarah Aceh dulu, masih ingatkah mereka tentang jiwa heroisme yang dimiliki oleh para ulama dan ulee balang yang mempertahankan tanahnya sendiri dari tangan penjajah yang laknat. Masih ingatkah mereka saat orang-orang Aceh dihasut oleh mata-mata Hindi Belanda Dr. Snouck Hurgronje sampai-sampai Teuku Umur sang pahlawan berbelot kepada Belanda, walaupun akhirnya pembelotan menjadi senjata makan tuan bagi pihak Belanda.

Tentu masih banyak kenangan lama, cerita luka dan bersejarah yang luput kini dari perhatian anak muda-mudi generasi bangsa Negeri Aceh Raya Darussalam. Tidak ada guna kita genjar-genjar berilmu tinggai dan berjabatan besar jika harkat dan martabat akan tanah kelahiran kita dibuang begitu saja.

Tidak perlu kita menuhankan akan sejarah yang lalu, tapi hal yang kecil dari apa yang telah diperjuangkan oleh para orang terdahulu bukan untuk ditepis oleh jaman yang serba mewah ini. Duka dan sedih ini bisa saja mewarnai akan kehidupan bangsa Aceh yang kita lihat sekarang ini, tragedi demi tragedi, pembantaian-pembataian sampai puncak dengan permusuhan antara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi saksi akan sebuah sejarah.

Kenapa harus mengungkit akan sejarah yang lalu, kenapa tidak melihat hari yang lebih baik di masa mendatang. Antara dua mata pisau yang bisa kita ibaratkan, disaat membutuhkan sebuah kemampuan dan keutuhan kita berpijak dengan mata pisau yang tajam serta disaat nyawa terancam mata pisau pun menjadi pelindung sesaat walaupun bukan selamanya, harapan bisa bertahan dan berlindung masih bisa kita pertahankan.

Tuhan tidak akan menanyakan siapa pahlawan bangsa mu dulu, Tuhan juga tidak akan bertanya siapa Raja atau Sultan bangsa mu dulu, tapi Tuhan akan menanyakan apa yang kamu buat untuk agama mu demi membela tanah kelahiran mu.

Mati membela nilai agama dan melawan kebatilan bagi mereka berarti syahid. Dan, landasan keagamaan yang paling populer di dalam melakukan perlawanan adalah al-Qur’an surat IV, ayat 76: ”Lantaran itu hendaklah mereka yang menjual akhirat dengan penghidupan dunia, berperang pada jalan Allah, karena barangsiapa berperang pada jalan Allah lalu terbunuh atau menang, maka Kami akan beri kepadanya ganjaran yang besar.” (Peristiwa Cumbok di Aceh, Anwar Daud & Husaini Husda)

Tulisan ini sebagai bentuk dari dedikasi terhadap apa yang kita lihat sela

Aceh utara akan segera punah

Thursday, August 6, 2009

PKA-5 DELEMATIKA KEBUDAYAAN ACEH

Kecewa tak Dikunjungi SBY, Anjungan Aceh Selatan Ditutup
* Mahasiswa Gelar Unjuk Rasa di Panggung Utama PKA
6 August 2009, 14:56 Utama Administrator

Bupati Aceh Selatan membuka baju

Bupati Aceh Selatan, Husin Yusuf (tengah) membuka baju sambil keluar dari arena Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) V akibat kecewa anjungan daerah itu batal dikunjungi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Taman Ratu Safiatuddin Banda Aceh, Rabu (5/8). Rencananya Presiden SBY akan mengunjungi anjungan Dekranas Aceh, Aceh Selatan dan Banda Aceh, namun tanpa diketahui penyebabnya Kepala Negara dan rombongan hanya melewati anjungan daerah penghasil pala itu. ANTARA/Irwansyah Putra
BANDA ACEH - Anjungan Kabupaten Aceh Selatan di arena PKA ke-5 Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh tadi malam ditutup. Aksi menghentikan kegiatan dilakukan karena kontingen `negeri pala' tersebut merasa kecewa sebab Presiden SBY tak jadi mengunjungi anjungan mereka, Rabu (5/8) sore.

Sekitar pukul 17.35 WIB, atau seusai membuka PKA ke-5 yang dipusatkan di Stadion H Di Murthala Lampineung, Presiden SBY bersama rombongan dengan menggunakan Bus Wisata Banda Aceh bergerak ke Taman Ratu Safiatuddin yang berjarak beberapa ratus meter dari stadion. Menurut perencanaan, salah satu sasaran peninjauan Presiden SBY adalah Anjungan Kabupaten Aceh Selatan yang merupakan juara umum PKA IV 2004. Kontingen Aceh Selatan sendiri sudah cukup yakin anjungan mereka menjadi sasaran peninjauan karena proses persiapan dan penelitian telah dilakukan oleh tim pusat mapun provinsi, termasuk panitia. "Tak ada lagi keraguan karena semua persyaratan untuk menyambut kunjungan Presiden SBY ke Anjungan Aceh Selatan sudah diatur sedemikian rupa. Pokoknya kami sudah sangat siap menunggu Pak SBY. Kami juga sudah dilatih," kata seorang anggota kontingen Aceh Selatan.

Lanjutkan!
Ketika sudah memasuki Taman Ratu, Presiden SBY singgah yang pertama sekali ke stand Dekranas Provinsi Aceh yang memang sudah terjadwal. Tak lama di stand ini, SBY berjalan ke arah anjungan lainnya. Ketika berada di depan Anjungan Kabupaten Aceh Besar, sejumlah ibu `pemilik' anjungan yang berdiri berjejer di pinggir jalan langsung mengumandangkan slogan kampanye SBY-Boediono; Lanjutkan!

Sambil mengucapkan slogan tersebut, ibu-ibu Aceh Besar dengan ramah mempersilakan SBY singgah ke anjungan mereka. Waktu itu SBY sempat berujar, "Tapi jangan lama ya. Dua menit." Mendengar respons tersebut, ibu-ibu Aceh Besar tampak berbunga-bunga dan langsung menggiring Presiden ke anjungan. Kehadiran Presiden disambut Bupati Aceh Besar, Dr Bukhari Daud. Tak ada persiapan khusus di anjungan tersebut, semuanya berlangsung dadakan dan surprise. Ini disebabkan karena Anjungan Aceh Besar memang tak masuk dalam daftar yang akan dikunjungi SBY. Meski hanya dua menit, kunjungan SBY ke Anjungan Aceh Besar menjadi sesuatu yang luar biasa dan mengejutkan pejabat, anggota kontingen, dan tokoh-tokoh Aceh Besar. Semua tampak sangat senang.

Lewat terus
Masalah mulai muncul ketika SBY berada di depan Anjungan Aceh Selatan. Pihak protokoler tidak terlihat mengarahkan SBY singgah ke anjungan tersebut, padahal sudah dijadwalkan. Presiden SBY dibiarkan saja lewat dan akhirnya masuk ke Anjungan Kota Banda Aceh yang memang sudah dijadwalkan juga.

Setelah keluar dari Anjungan Pemko Banda Aceh, SBY langsung menuju ke mobil yang sudah menunggu. Sedangkan posisi Anjungan Aceh Selatan sudah tertinggal di belakang. Memastikan SBY tak jadi singgah di Anjungan Aceh Selatan, langsung saja terjadi kepanikan di anjungan `negeri pala' tersebut.

Ditengahi Andi Malarangeng
Melihat kepanikan di Anjungan Aceh Selatan, Juru Bicara Presiden, Andi Malarangeng segera menghampiri. Andi berusaha menenangkan sambil mengatakan pihaknya tidak tahu persis kenapa persoalan itu bisa terjadi. Tetapi menurut Andi, terlewatkan Anjungan Aceh Selatan oleh SBY karena kesalahan protokoler di tingkat provinsi.

Di depan Andi Malarangeng, anggota kontingen Aceh Selatan mengatakan banyak hal yang akan diperlihatkan kepada SBY, seperti barang-barang seni dan lainnya. "Ternyata kami dikecewakan, padahal kami sudah melakukan sangat banyak persiapan," kata seorang anggota kontingen.

Setelah Andi Malarangeng meminta maaf, namun suasana tetap panas, tiba-tiba muncul Wagub Muhammad Nazar. Tetapi Wagub Aceh yang berusaha menengahi, malah dicegat di pintu gerbang anjungan, dan tak diperkenankan masuk. "Kami sangat malu dengan kejadian ini," kata seorang ibu dengan nada histeris.

Bupati buka baju
Ketika suasana sudah tak karu-karuan, tiba-tiba Bupati Aceh Selatan ikut `mengamuk' dan spontan membuka pakaian adat Aceh yang dikenakannya sehingga yang tersisa hanya singlet warna putih. Aksi ini membuat suasana semakin heboh. Setelah membuka baju, tiba-tiba Bupati Aceh Selatan diamankan oleh dua orang laki-laki berfostur tegap mengenakan baju batik. Beberapa lainnya berlari-lari kecil sambil meminta disiapkan mobil. Langsung saja Bupati Aceh Selatan dinaikkan ke sebuah mobil minibus warna hitam diiringi teriakan dan tangisan istrinya.

Wakil Bupati Aceh Selatan, Daska Aziz kepada Serambi tadi malam mengatakan, menyusul aksi protes itu pihaknya langsung menggelar rapat di Wisma Anggrek Banda Aceh diikuti unsur panitia, mahasiswa, pemuda, dan pejabat lingkup Pemkab Aceh Selatan. Hasil rapat memutuskan, untuk sementara Anjungan Aceh Selatan ditutup dan kegiatan kesenian dihentikan sepanjang tadi malam. "Keputusan lebih lanjut mengenai sikap apakah diteruskan atau langsung stop akan ditentukan Kamis (6/8)," kata Daska Aziz. Sedangkan Bupati Aceh Selatan, Husen Yusuf, hingga pukul 23.00 WIB tadi malam masih beristirahat di Wisma Anggrek dan tak bersedia ditemui.

Unjuk rasa
Serombongan besar mahasiswa dan pemuda asal Aceh Selatan, tadi malam melakukan unjuk rasa ke Taman Ratu Safiatuddin sebagai bentuk protes atas terjadinya persoalan tersebut. Hingga tengah malam, mahasiswa terus berorasi di Anjungan Aceh Selatan. Malah beberapa di antara mereka sempat berusaha untuk menembus ke Hermes Palace Hotel, tempat SBY menginap.(nas/ sup/gn)

Akses m.serambinews. com dimana saja melalui browser ponsel Anda.

yang merajok bupati aceh selatan yang dapt FEE bupati aceh besar....
rugi dunkz menang sby 93 % kalo dimata sby masih kecil
tu tanda sby lebih yakin dg bupati parnas daripada bupati gam

Tuesday, July 21, 2009

BLOWER NAMA SEORANG YAHUDI


OLEH : AHMADI MATANGLADA,S.HUM *

Penyerangan Israel ke Jalur Gaza membuat kita sebagai umat islam tergugah hati untuk membantu mereka (warga Palestina) yang sedang menderita.Yahudi memang penuh ambisi menyerang Gaza untuk menguasainya, sehingga beberapa Negara membuat diplomasi untuk gencatan sejata, kita sebagai orang Aceh cuma bisa berdoa dan membantu alakadar harta untuk meringankan penderitaan mereka. Nah, saya teringat sebuah nama Gampong dipinggiran kota Banda Aceh yaitu Blower, Gampong ini tidak jauh Blang Padang. kita mungkin tidak tahu dari mana asal muasal nama Blower tersebut, beberapa tulisan dan artikel yang saya baca, nama Gampong Blower itu berasal dari seorang nama Yahudi yang singgah di Aceh sebelum anggresi penyerangan Belanda ke Aceh pada tahun 1832 silam.

Aceh berbagai macam latar belakang sejarah serta beragam bangsa yang pernah singgah di dalamnya, tentunya bukan hal aneh lagi jika ada nama-nama tepat yang berasal dari nama pendatang tersebut ataupun tempat asal si pendatang itu. Apabila dilihat dari letak giografis Blower dan nama Blower, nama itu masih asing dalam pedoman bahasa Aceh. Biasanya setiap nama tempat atau pun benda, itu diambil dari nama jenis barang ataupun tumbuhan, tapi lain halnya dengan nama Blower. Konon nama tersebut di pinjam dari nama seorang Yahudi, jika itu benar maka muncul sebuah Pertanyaan, kenapa nama tersebut di ambil dari seorang Yahudi? Jika memang kita semua membenci Yahudi.

Terlepas dari kekaguman atau kebencian kita terhadap Yahudi, yang pasti semuanya tidak terjadi secara blak-blakan tanpa proses waktu yang panjang. Meskipun sekarang ini sulit untuk menemukan sumber tentang kebenaran yang sebenarnya, tapi tidak ada salahnya kita mencoba untuk membuka diri menerima kenyataan yang di sajikan oleh para sejarawan. Sangat rasional apabila setelah mereka mengangkat kaki dari Aceh, kemudian mereka maninggalkan bekas sejarah untuk kita, ataupun sebaliknya para pendahulu kita sengaja memberi bekas untuk mengenang sebuah peristiwa antara mereka.

Dalam buku panduan Kuburan Militer Peutjut disebutkan bahwa zaman dulu ada seorang pedagang Yahudi yang berasal dari Eropa Timur datang ke sebuah tempat di pinggir kota Banda Aceh, dia membeli sebidang tanah dan membuka usaha perumahan ditempat tersebut, kini tempat itu dikenal sebagai Gampong Blower. Nama asli pedagang Yahudi tersebut Bolchover. Orang Aceh pada waktu itu tidak dapat menyebut nama Bolchover dengan tepat, maka secara terus menerus nama Bolchover terkikis sehingga menjadi Blower. Lama-kelamaan nama tersebut dijadilah sebagai nama Gampong.

Loghat yang sulit di ucapkan dalam Bahasa Aceh, telah memutar balik nama sesorang sekaligus menjadikan nama tersebut terkenang di hati, sehingga di ambil untuk sebuah nama tempat yang terucap oleh kita hingga saat ini. Jika sekarang kita benar-benar benci terhadap Yahudi, apakah kita harus benci kepada pendahulu kita yang telah mengabadikan nama Yahudi sebagai nama gampong. Rasanya kita tidak mungkin menyalahkan Yahudi dalam kontek ini, karena kemungkinan dia tidak pernah meminta agar namanya di abadikan. Jika kita menelusuri sejarah Aceh yang di bangun oleh pendahulu kita dibandingkan dengan kita sekarang, rasanya juga tidak mungkin kita menyalahkan mereka.

Meskipun kita tidak berani menyalahkan mereka, melihat kondisi dan prilaku Yahudi sekarang, sudah sewajarnya kita mengatakatan bahwa orang dulu tidak teliti dalam menagmbil suatu tindakan. Tanpa ada maksud mengungkit kekurangan di masa lalu, tapi kita semestinya merasa bersalah atas sikap para indatu kita sendiri. Tidak ada yang tau secara pasti bagaimana usaha indatu dalam dalam memperjuangkan masa depan cucunya. Sungguh akan tidak tau terimakasih, namun kita juga tidak bisa menerima begitu saja apa yang telah diwariskan kepada kita, artinya kita harus menutupi kekurangan masa lalu seandainya tidak memberi kontribusi terhadap kita.

Kita tidak mungkin menimpa kesalahan itu kepada mereka yang telah tiada. Salah satu alternatif menurut penulis adalah kita semua yang masih hidup merubah demi keperluan anak cucu kita nantinya. Akan kelihatan arogan jika saya menawarkan untuk diganti nama tersebut, tetapi jika terus dibiarkan, nama tersebut akan menjadi goresan yang terwarisi dari generasi kegenerasi yang mau memahami sejarah.

Kondisi sekarang ini banyak orang aceh menghujjah kaum Yahudi, sah sah saja mengingat prilaku yang biadapnya terhadap Bangsa Palestina yang notabennya orang islam. Kita orang Aceh selaku insan seagama dengan warga Palestina, menjadi hal yang lumrah merasaka apa yang mereka rasakan. Islam sendiri menganjurkan demikian (Islam tubuh yang satu). Ibaratnya sumut di seberang laut kelihatan, sementara gajah didepan mata tidak kelihatan. Jika kita memang benar-benar membenci Yahudi, seharusnya kita harus menghapus hal sekecil apapun yang berbau Yahudi. Kalau hari ini kita mengkampanyekan untuk membaikot semua poduk Yahudi, kita juga harus peka terhadap peninggalannya. Disatu sisi kita telah menunjukan sikap yang menentang terhadap yahudi, namun disisi lain kita menghafal nama Yahudi hampir saban hari.

Saya tidak ingin menjadi provokator yang menebar kebencian suatu bangsa dengan menjadikan suatu kesalahan sebagai landasannya. Sekarang saya hanya ingin, kita tidak merobek celana orang dari belakang, sementara jauh hari kita telah menjadikan celana tersebut sebagai pajangan hiasan di rumah kita. Jika kita katakan pendahulu kita tidak mengetahui akan lika liku Yahudi, sama halnya kita mengatakan pendahulu kita tidak bisa membaca sejarah. Karena jauh sebelum mereka yahudi telah tertulis di dalam Al-Qur’an.
Apakah kita juga akan mengatakan mereka juga tidak pernah membaca Al-Quran? Nau’zubilla Himinzalik, rasanya kita tidak akan berasumsi sampai sejauh itu.

Seperti yang telah saya sebutkan di atas, mungkin saja nama tersebut ada karena melalui perjalanan yang berliku-liku. Kita akan mengatakan nama yang keren dan kebara-baratan, seandainya kita tidak mengatahui asal-usulnya. Dalam sebuah pandangan lain akan memperkuat statemen yang mengatakan bahwa masyarakat Aceh adalah masyarakat yang terbuka (open socity), ini akan menmbutikan semua itu memang sudah terwarisi sejak sedia kala. Mereka menerima bangsa yang berbeda keyakinan dan kepercayaan, bahkan nama mereka menjadi besar di kalangan masyarakat Aceh.

Bolchover atau Blower hanyalah sebuah nama yang secara logika tidaklah membawa dampak apa-apa, namun dalam pandangan agama nama itu adalah do’a. berarti setiap kali kita mengucapkan nama Blower, setiap kali pula kita telah berdo’a, setiap pula kita telah berdo’a atas nama Yahudi. Telepas benar atau tidak menurut agama, yang jelas nama Blower sudah lebih di kenal dari pada nama pelaku sejarah yang lain, katakanlah para Raja atau Ratu, yang sekarang hanya sebatas nama jalan atau lorong. Tidak banyak sumber yang penulis dapatkan kenapa begitu terkesan nama Bolchover sehingga dijadikan sebagai nama sebuah pemukiman warga.

Sekarang ini hampir semua tempat telah diberi nama, termasuk tempat yang belum di diami oleh manusia. Jika pun masih ada tempat yang belum ada nama, saya rasa tidak mungkin lagi di kasih nama dengan nama Yahudi seperti yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita. Karena kontek jaman sekarang dengan dulu sudah jauh berbeda. Tidak ada lagi Yahudi atau bangsa asing yang melakukan perdagangan ke Aceh. Apakah ini langkah maju yang terjadi sekarang di bandingkan dengan sebelumnya, atau sebaliknya, kita sekarang sedang mengalami kemunduran, tidak ada lagi yang dapat diperdagangkan, sehingga mereka (orang luar) enggan menetap di Aceh.

Zaman telah berubah tapi sejarah tetap harus kita ingat sebagai pedoman semangat untuk maju,bangsa yang mengerti dengan sejarah negerinya adalah bangsa yang enerjik dan pemberani. Indetitas merupakan marwah suatu bangsa, tapi jika ada indetitas yang kurang bagus, maka indetitasnya juga patut di curigakan, Aceh memang di kenal sebagai bangsa yang pernah jaya di masa lampau, Aceh juga pernah didiami oleh bangsa Yahudi yang jelas musuh orang islam, di bumi negeri islam yang pernah jaya di masa lampau (Aceh), yahudi sempat menitipkan namanya untuk dijadikan sebuah nama Gampoeng yang bernama Blower, mungkin mereka terispirasi dengan kata pepatah “Hidup untuk di kenang seribu tahun mendatang, walupun umur hanya 63 tahun saja”.

Kebenaran nama Blower berasal dari nama seorang Yahudi perlu di telusuri lebih jauh lagi, sehigga kebenaran tidak ada keraguan lagi Blower itu berasal dari nama orang yahudi.

Fakta sejarah menulis sejumlah kuburan orang yahudi dapat ditemukan di pemakaman peutjut gampong blower,kuburan-kuburan yahudi tersebut merupakan kumpulan kuburan yahudi yang paling luas di asia.meskipun banyak kuburan yang telah rusak akibat tsunami 26 desember 2004 lalu.masih terdapat di kenal sebagai kuburan yahudi.


*. PENULIS adalah direktur PuAN, dan analis Institut Aceh People

ACEH DAN IRAQ

*Pembebasan 8, 2003

Militerisme AS Demi Berlangsungnya Kapitalisme Global

Tak lama setelah dikuasainya Irak oleh AS dan sekutu-sekutunya, Rejim Megawati-Hamzah seperti tak mau ketinggalan dalam gerbong genderang perang kapitalis terhadap rakyat miskin. Tanggal 19 Mei 2003, Pemerintah RI menyatakan Aceh di bawah kekuasaan darurat militer dan unit-unit TNI dan Polri dengan segera bergerak maju menghantam daerah-daerah yang dikatakan sebagai basis GAM.

Pola serangannya benar-benar mirip, meski ada konteks yang jelas berbeda. Jika AS dan sekutu-sekutunya menggunakan PBB dan tim inspeksi senjata pemusnah massal untuk kasus Irak, TNI menggunakan COHA (perjanjian penghentian permusuhan) untuk memetakan kekuatan GAM. Di Afghanistan AS menggunakan pembagian makanan dan obat-obatan untuk menurunkan derajat permusuhan rakyat atas serangan tentaranya, di Aceh rejim Megawati-Hamzah mengikutkan bantuan pangan dan uang agar rakyat pedesaan Aceh mau mengungsi ke kota-kota sehingga GAM kehilangan jalur-jalur logistiknya. Baik AS maupun Megawati-Hamzah menggunakan jumlah pasukan yang besar, persenjataan berat, dan tak ragu menembaki rakyat sipil. Bahkan angka korban sipil dan pengungsi secara terang-terangan diramalkan oleh keduanya seperti layaknya ramalan cuaca.

Tak juga terlihat bedanya peran media massa besar, baik cetak maupun televisi, yang menyajikan kedua perang kolonial tersebut dalam kemasan yang membuat kekerasan militer adalah kehidupan sehari-hari, sesuatu yang harus dianggap wajar oleh rakyat. Dengan terang-terangan kebohongan yang dilakukan oleh Bush-Blair dan Megawati-Hamzah dipompakan dalam pesta pora penyebarluasan militerisme. Tak peduli dengan sudut pandang yang menjadi tradisi masing-masing media massa, dukungan pers dengan para reporter yang ikut dalam unit-unit tempur telah dimenangkan oleh para militeris, baik dari sipil ataupun militer sendiri, dalam pemerintahan Bush dan Megawati-Hamzah.

Yang membedakan antara Bush dan Megawati-Hamzah adalah kenyataan bahwa Bush adalah tuan tempat Megawati-Hamzah mengabdi. Inilah yang dapat kita jadikan sandaran untuk mengatakan argumen-argumen nasionalis Megawati-Hamzah, yang terus-menerus juga disuarakan oleh para militeris-fasis Susilo Bambang Yudhoyono, Endrartono Sutarto, Ryamizard Ryacudu, adalah sebuah kebohongan. Kepentingan imperialis di Aceh lah yang menjadi alasan penggunaan perang untuk menyelesaikan persoalan Aceh, demi meningkatkan “martabat” dan “gengsi” mereka di antara elit imperialis. Jika memang benar mereka menyerang Aceh karena untuk menjaga kesatuan RI, apakah mereka akan menyerang IMF dan Bank Dunia yang menghancurkan landasan ekonomi nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia? Sama halnya dengan kalimat perdamaian dalam Pakta Pendirian PBB, NKRI adalah mitos yang digunakan oleh kelas kapitalis untuk menggunakan kekuatan militer demi melindungi kepentingan mereka. Perang di Aceh dan Irak adalah perang kolonial untuk melindungi kepentingan-kepentingan imperialis di kedua wilayah tersebut. GAM dan Saddam harus pergi dan tak lagi mengganggu ladang minyak dan gas bumi milik imperialis AS.

Laju globalisasi, yang tidak lain adalah perluasan dan pendalaman pengaruh kekuasaan imperialisme AS dan sekutu-sekutunya, telah menciptakan berbagai macam ketidakstabilan. Penghancuran pasar-pasar domestik negeri-negeri dunia ketiga, melalui Program-Program IMF, tidaklah menyelesaikan krisis kelebihan kapasitas produksi. Tidak juga menjawab atas pertanyaan bagaimana menjual hasil-hasil produksi yang jumlahnya berlebihan di negara maju, yang menurunkan tingkat keuntungan yang diperoleh kapitalis negara maju. Malahan proses itu telah membuat elemen-elemen rakyat dunia ketiga melakukan perlawanan atas perampokkan yang mereka alami. Aksi-aksi rakyat dunia ketiga sangat jelas tidak dapat dihentikan oleh agen-agen mereka. Inilah yang kemudian menimbulkan kebutuhan imperialis AS untuk mengamankan hasil-hasil jarahannya. Lalu jalan militerlah, perang-perang di negeri-negeri dunia ketiga, yang kemudian menjadi jawaban kapitalis atas krisis keberlangsungan kapitalisme global.
Peta Militer Amerika di Dunia

Mari kita perhatikan pidato Bush di depan generasi baru militeris yang baru lulus dari akademi militer West Point, 1 Juni 2002:

“Banyak waktu dalam abad yang lalu, pertahanan Amerika mengandalkan doktrin penggertakkan (deterrence) dan pengungkungan (containment). Dalam beberapa kasus, strategi tersebut masih dapat berlaku. Tapi ancaman-ancaman baru juga memerlukan pemikiran baru. Penggertakkan-janji melakukan pembalasan besar-besaran terhadap bangsa lain-tak akan berguna untuk melawan jaringan teroris yang tak harus membela bangsa dan rakyat… Pengungkungan tak akan mungkin ketika diktator yang kuat bersenjatakan senjata pemusnah massal dapat meluncurkan senjata atau rudal tersebut ataupun memberikan senjata tersebut pada teroris sekutunya… Jika kita tunggu ancaman-ancaman tersebut mematangkan diri, kita akan terlalu lama menunggu… Perang Melawan Teror tak akan dimenangkan dengan cara bertahan. Kita harus bertempur melawan musuh-musuh kita, ganggu rencana-rencana mereka, dan hadapi ancaman yang terburuk sebelum ancaman tersebut muncul. Dalam dunia yang kita masuki saat ini, satu-satunya jalan yang menuju keamanan adalah bertindak. Dan bangsa Amerika akan bertindak.”

Pidato ini adalah gambaran paling tepat dari semangat kaum militeris Amerika. Bukan sebatas menunggu diserang, kini AS telah menebar ancaman serangan militer ke berbagai negara. Bahkan untuk kasus Iran dan Suriah, AS mampu melakukan serangan segera dengan kekuatan pasukannya yang ditempatkan di Timur Tengah. Dengan dua ratus ribu tentara, dengan 96.000 prajurit tempur dan tambahan 55000 tentara yang menuju daerah Teluk Persia, jelaslah bukanlah direncanakan untuk ‘membebaskan’ Irak. Untuk kasus Korea Utara, beberapa tahun terakhir kira-kira 85.000 prajurit AS ditempatkan di Jepang dan Korea Selatan. Secara keseluruhan, kira-kira setengah juta tentara AS bersama dengan 400 kompleks militer ditempatkan di seluruh belahan dunia. Jelas hal ini menempatkan AS sebagai negara yang paling berkuasa dan paling berpengaruh terhadap negara-negara lain. Bahkan, dengan kekuatan militernya, AS-lah yang paling mampu menjamin keberlangsungan dunia imperialis.

Hal ini disadari oleh negeri-negeri imperialis lain, yang kekuatan militernya jauh lebih kecil daripada AS. Selama Perang Dingin hanya blok Soviet yang mampu menandingi kekuatan militer AS. Karena itu, meski selalu akan ada percekcokan antara negara-negara imperialis dengan AS, seperti yang dilakukan oleh Jerman dan Perancis sebelum Irak diserang, namun dengan segera negara-negara itu memperbaiki hubungannya dengan AS. Mereka juga tetap membutuhkan kehadiran militer AS di sekitar negeri-negeri dunia ketiga yang sedang menjadi target perampokkan imperialisme. Semua imperialis jelas memiliki kekhawatiran akan munculnya pemerintahan-pemerintahan yang independen, menolak masuk dalam arus globalisasi. Negara-negara yang dikategorikan sebagai The Rogue (penjahat), sebenarnya adalah negara-negara yang tidak bisa dimasuki oleh imperialis dengan program pasar bebasnya. Terlepas dari tingkat demokrasi negara tersebut, mereka memiliki kepentingan nasional yang masih utuh, biarpun didera oleh embargo ekonomi yang diberlakukan AS dan kekuatan militernya.
Sekelumit Sejarah

Akan terlalu panjang untuk menderetkan sejarah aktivitas militer AS di seluruh dunia. Oleh karena itu, di sini kita hanya akan melihat sedikit gambaran pokok mengenai langkah-langkah mereka dalam kaitan dengan kepentingan ekonomi politik di dunia.

Pembukaan akses masuk pasar dengan cara yang militeristik bukanlah metode yang baru bagi imperialisme AS. Bahkan cara ini menjadi ciri dari imperialisme AS dalam sejarah dunia abad 20. Ekspedisi-ekspedisi pembukaan pasar lebih banyak dilakukan AS, dibanding Jerman atau Jepang sebelum Perang Dunia I. Begitu para kapitalis nasionalnya membutuhkan pasar-pasar baru, dengan segera terjadi pengiriman pasukan. Sejarah mencatat bahwa wilayah barat AS, dari Texas sampai California, didapat dengan cara perampasan dari suku-suku Indian Amerika dan Negara Meksiko.

Menjelang perempat akhir abad 19, pasukan koalisi negara-negara imperialis yang masih muda bersatu menghantam kekuatan rakyat Cina yang menolak masuknya barang-barang negeri-negeri imperialis. Konflik yang dikenal sebagai Perang Boxer ini, menghasilkan pembagian wilayah-wilayah pelabuhan daratan Cina di antara para imperialis. Sebelumnya, ekonomi Jepang yang tertutup dipaksa dibuka oleh kehadiran kapal-kapal perang AS yang dipimpin oleh Laksamana Perry.

Konflik AS melawan rakyat Kuba bukanlah baru dimulai ketika kaum revolusioner di bawah pimpinan Castro dan Che Guevara merebut kekuasaan tahun 1958. Pada akhir abad 19, AS dengan terbuka melibatkan diri berperang bersama Spanyol untuk merebut Kuba. Pada saat itu, ada gerakan revolusioner rakyat Kuba melawan penjajahan Spanyol, yang mana perang tersebut membahayakan stabilitas perdagangan AS di Karibia. Bahkan pada saat itu, perlawanan terhadap penjajah Spanyol sedang meluas di berbagai negara, dalam bentuk yang revolusioner. Itulah yang menyebabkan AS, setelah berhasil meredam dan merepresi perlawanan rakyat Kuba, juga mengirimkan pasukannya ke berbagai negara Amerika Latin seperti Panama, El Salvador, dan lain-lainnya. Kemudian, pemerintahan-pemerintahan boneka pro AS segera didirikan. Namun, setelah Perang Dunia I, AS berulang kali mengirimkan pasukan ke negeri-negeri Amerika Latin untuk meredam pemberontakkan yang dilakukan oleh rakyat terhadap pemerintahan-pemerintahan boneka tersebut.

Setelah Perang Dunia II yang menempatkan AS dan Uni Soviet sebagai pemenang, gerakan revolusioner di negeri-negeri jajahan meluas dan muncul sebagai pemberontakkan pembebasan nasional. Cina, Indonesia, Vietnam, Aljazair, Korea, dan Malaysia, tiba-tiba menjadi ladang subur yang mengandung bibit-bibit pemerintahan pro rakyat, pemerintahan kiri. Satu per satu melepaskan diri dari ikatan kolonialnya dan merdeka. Namun sangat terlihat, kekuatan militer AS dengan segera turut campur untuk meredam gerakan-gerakan pembebasan nasional tersebut. Lepasnya negeri-negeri tersebut dari penjajah lama membuat AS mengirimkan agen-agen sabotase dan pasukan. Di Korea, atas nama Dewan Keamanan PBB, pasukan AS yang dipimpin Jenderal Douglas McArthur menyerang kota-kota yang dikuasai oleh Tentara Rakyat Korea, dan memaksakan pembagian Korea menjadi dua.

Perang Vietnam mungkin menjadi titik balik ekspansi militeristik AS dengan menggunakan penempatan pasukan secara besar-besaran. Berkekuatan setengah juta pasukan wajib militer (conscript) yang didukung oleh armada lautnya, AS mencoba meredam gerakan pembebasan nasional Vietnam. Namun rakyat Vietnam yang sebelumnya berhasil menghancurkan Kolonialisme Perancis, kemudian “menggulung” (meminjam bahasa Pramoedya Ananta Toer) militer superpower AS. Pelajaran dari Vietnam memang membuat taktik intervensi militer AS berbeda, dan semakin mengandalkan senjata jarak jauh dan senjata pemusnah massal. Pengiriman pasukan dalam jumlah besar memiliki resiko yang besar terhadap pemerintah AS sendiri. Setelah Perang Dunia II saja, terjadi gerakan menuntut pemulangan pasukan di antara tentara AS. Ketika Perang Vietnam berlangsung, tekanan rakyat AS yang bersolidaritas dengan rakyat Vietnam berubah menjadi gerakan yang setiap waktu bisa meledak menjadi pemberontakkan revolusioner.
Militerisme Sebagai Solusi

Kondisi krisis yang memuncak pada pertengahan tahun 2001 akhirnya membuat para kapitalis AS kembali mengutamakan kebijakan militerisme. Hal tersebut disebabkan berbagai kebutuhan mendesak para kapitalis untuk menjaga posisi kelas mereka.

Pertama, perlawanan terhadap kapitalisme dalam isu anti globalisasi telah mencapai tingkat mobilisasi massa yang tinggi. Bahkan perlawanan ini telah melahirkan embrio kerja sama antar rakyat dari berbagai negeri untuk melawan kapitalisme dan telah mewujudkan diri dalam mobilisasi puluhan sampai ratusan ribu massa untuk menantang setiap pertemuan para kapitalis dunia. Sampai-sampai pertemuan WTO dipindahkan ke Doha, Qatar, karena rasa takut kaum kapitalis atas militansi perlawanan anti kapitalisme. Kini menyebarluas di seluruh dunia, baik di negara-negara maju ataupun negara dunia ketiga, usaha-usaha untuk merampas demokrasi dengan pemberlakuan undang-undang anti teroris yang mengijinkan pengintaian terhadap organisasi atau individu yang digolongkan berpotensi menjadi teroris, penangkapan atas dasar kecurigaan, dan penahanan tanpa batas. Jika dilihat definisi terorisme yang ada di semua undang-undang, aksi mogok, pemogokkan umum, dan sejenisnya dapat digolongkan sebagai terorisme. Pemerintahan Bush baru-baru ini menambahkan 37 milyar dolar ke anggaran pertahanan dalam negeri yang sudah mencapai 29 milyar USD, seiring dengan pembangunan Departemen Keamanan Dalam Negeri dan penambahan kekuasaan dan tenaga kepolisian.

Kedua, seperti dalam krisis kapitalisme yang melatar belakangi Perang Dunia II, ada kebutuhan kapitalisme untuk menyelamatkan industri-industri besar yang mengalami kelebihan kapasitas produksi dengan mengedepankan kembali pengembangan industri militer. Untuk hal ini, tahun 2003 ini Kongres AS menyetujui penambahan 30 milyar USD atas anggaran militer AS, sehingga mencapai 330 milyar USD (sepuluh kali lipat dari APBN Indonesia). Untuk program pengembangan pesawat tempur baru, AS akan menghabiskan 200 milyar USD selama sepuluh tahun, sementara untuk program perlindungan AS terhadap rudal balistik akan menghabiskan 70 milyar USD selama 5 tahun. Selain menyelamatkan dunia industri, program-program militer ini dapat dipastikan membiayai pengembangan-pengembangan teknologi baru, membebaskan para kapitalis besar AS dari biaya pengembangan teknologi industri mereka-karena semua itu akan ditanggung negara dengan uang pajak yang diambil dari rakyat miskin (ingat, di AS kini para kapitalis dibebaskan dari pajak dengan alasan pertumbuhan ekonomi).

Ketiga, kebijakan militerisme ini juga tidak dapat dilepaskan dari upaya mencari sumber-sumber akumulasi modal baru. Upaya tersebut bahkan sejak lama dirumuskan, ketika masa pemerintahan Clinton. Sistem kapitalisme pada negara-negara imperialis adalah sistem yang sangat haus dana segar untuk terus dapat bertahan dan berkembang. Minyak bumi dan komersialisasinya menjadi penentu timbulnya sumber-sumber akumulasi ini. Tanpa dikuasainya minyak bumi Irak, pemulihan ekonomi kapitalisme global, terutama di daerah-daerah jarahan (Asia Tenggara, Afrika Utara, Amerika Latin) akan terus-menerus dalam kondisi suram.

Keempat, kapitalisme global sedang menghadapi krisis legitimasi ideologi yang justru bukan pada negeri-negeri jarahan, tetapi berkembang meluas di dalam negeri-negeri dunia pertama. Karena itu sangat penting bagi AS untuk memusnahkan negara-negara yang menjadi alternatif ideologis terhadap idelogi pasar bebas AS. Penghancuran Korea Utara dan Kuba akan dijadikan bukti yang akan dibawa oleh AS ke rakyat manapun bahwa pasar bebaslah yang akan menang.

Wednesday, July 8, 2009

ULAMA ACHEH: ANTARA MUJTAHID DAN PENGECUT

ULAMA ACHEH: ANTARA MUJTAHID DAN PENGECUT


Oleh: Yusra Habib Abdul Gani


Bahwa sebagian Ulama Acheh telah tampil dalam perang melawan penjajah (Belanda) tidak dapat dipungkiri. Tengku Thjik di Tiro Muhammad Saman, Tengku di Paja Bakông, Tengku di Tjot Titjém, Teungku di Bukét, Pang Yacoub, Tengku di Tjot Pliëng, Teungku di Barat, Teungku di Mata Ië, Teungku Thjik Tunong adalah diantara sederetan Ulama yang telah berkiprah dalam medan perang.

Bahwa ada Ulama Acheh yang bekerjasama dengan Belanda tidak bisa juga dipungkiri. Tengku Nurdin (Penasehat Snouck Hurgronje) dan tengku H. Hanafiah, ditambah lagi dari kalangan bangsawan: Tuanku Mahmud, Raja Keumala dan Panglima Polém.

Bahwa ada Ulama Achah yang mealwan Belanda tidak dapat dsanggah. Tengku Abdul Djalil Bayu memngeluarkan fatwa jihad fisafilillah melawan agressor Jepang. Perlawanan tersebut dibuktikan dalam peristiwa Bayu, Lhôk Seumawé, sehingga beliau bersama ratusan anak didiknya syahid dalam medan perang.

Bahwa ada Ulama Acheh yang bersubhat dengan Jepang adalah bena. Ulama Acheh yang bergabung dalam Persatuan ulama Acheh (PUSA) telah mengundang Jepang masuk ke Acheh, yang nyata-nyata kemudian membunuh Ulama dan memerangani bangsa Acheh.

Bahwa ada Ulama yang menantang kuasa rezim otoriter dan tirani -zaman Orde Lama (Sukarno)- Tengku Hasan M. di Tiro dan Tenku Ilyas Leubé, berjuang memerdekakan Acheh.

Bahwa ada Ulama Acheh menyokong rezim militer Suharto tidak dapat ditolak. Ulama Acheh yang bergabung dalam Golkar dan MUI Acheh membenarkan semua tindakan biadab penguasa militer di Acheh.

Jadi untuk apa pembaca terkejut dengan statement Tengku Husaini - Waled - yang berkata: "... Kita satu syahadah, satu nabi, satu kiblat, dan ketika kita tanya sama orang di Jawa mereka juga Islam dan satu akidah dengan kita di Aceh, dan bertempurlah kita sesama Islam. Ini disebabkan, kita sudah dibodohi orang bodoh. Kita sudah dijahili oleh orang jahil di bawah pimpinan Hasan Tiro yang beristrikan orang Jahudi. Apakah orang seperti itu yang akan kita ikuti;

Di Aceh, terjadi pertempuran sesama umat Islam. Ini bukan Syahid. Kalau mati wajib di shalat dikafani dan ditanam. Tapi anggota GAM yang mati bukan syahid. "Tidak ada syahid. Kalau ada yang menyatakan syahid, jumpa dulu dengan kami para ulama. Yang Syahid, hanya ada sewaktu perang melawan Belanda dan Jepang tempo dulu," (Serambi Indonesia - Warga Aceh Besar dan Nagan Siap Lawan GAM Rabu 24/12).

Ada seribu alasan bagi Ulama Acheh untuk mengelak dari pergi ke medan perang melawan penguasa zalim -penjajah Indonesia- yang telah nyata-nyata menzalimi bangsa Acheh: membunuh, memperkosa, menganiaya, menghukum sewenang-wenang dan memenjarakan bangsa Acheh secara melawan hukum dan keadilan. Kendati fakta-fakta kebiadaban diketahu persis oleh Ulama Acheh, disahkan oleh KOHAMNAS bahwa pelakunya adalah TNI yang disaksikan oleh wartawan dalam dan luar negeri, tetapi Ulama Acheh tidak berani melawan dan menyatakan yang benar di depan penguasa. Ulama Acheh tidak berani bangkit melawan kedhaliman, pada hal Islam mengajarkan: satu agama dan aqidah, bukan alasan untuk menghentikan perang melawan penguasa dhalim, dalam konteks ini melawan rezim penjajah Indonesia. Perang untuk menghentikan fitnah wajib dilancarakn di Acheh.

Dalam sejarah Islam, kita diingatkan dengan prilaku Yazid (anak Abu Sofyan - muslim -) yang melakukan tindakan biadab di padang Karbala (korban adalah keluarga Rasulullah bersama ratusan orang muslim lainnya) dan Yazid penyebar fitnah juga orang muslim. Sungguh "fitnah lebih kejam daripada pembunuhan". Ini merupakan aurat orang Islam. Memerangi rezim Yazid adalah kewajiban. Memerangi rezim Indonesia adalah suatu keawjiban - memerangi penguasa zalim terhadap bangsa Acheh adalah fadu'ain bukan fardu kifayah- sebab semua bentuk kebiadaban: pembunuhan massal terhadap anak-anak, perempuan, orang tua, perkosaan, pembakaran kampung dan penganiayaan telah menjadi agenda rezim Yazid ketika itu. Sekarang, apa kurangnya yang berlaku di Acheh? Dalam konteks politik, moral dan kemanusiaan, pelanggaran HAM di Acheh oleh TNI sudah melebihi prilaku rezim Yazid.

Rezim Sukarno -juga orang Islam- tetapi membantai anggota DI-TII di Acheh -orang Islam; membantai anggota DI-TII di Jawa Barat -juga orang Islam; membantai anggota DI-TII di Sulawesi -juga orang Islam.

Rezim Habibie, Gusdur dan Megawati juga orang Islam yang berbuat biadab terhadap bangsa Acheh yang sama aqidah sesama Islam.

Untuk itu ucapan Tengku Husaini"... Kita satu syahadah, satu nabi, satu kiblat, dan ketika kita tanya sama orang di Jawa mereka juga Islam dan satu akidah dengan kita di Aceh, dan bertempurlah kita sesama Islam. Ini disebabkan, kita sudah dibodohi orang bodoh. Kita sudah dijahili oleh orang jahil di bawah pimpinan Hasan Tiro yang beristrikan orang Jahudi. Apakah orang seperti itu yang akan kita ikuti; adalah pernyataan seorang Ulama yang dangkal sekali pengetahuan politik dan sejarah Islam.

Rezim penjajah Indonesia sedang dan akan terus memakai Ulama, cendikiawan dan politisi untuk memperpanjang kesinambungan politik penjajahannya di Acheh. Bangsa Acheh diperdagangkan untuk kepentingan penguasa Indonesia dan merupakan wujud dariapda korban pengkhianatan sejarah oleh rezim Indonesia.

Yusra Habib Abdul Gani

-------------------------------------------

Warga Aceh Besar dan Nagan Siap Lawan GAM

KOTA JANTHO - Puluhan Ribu pemuda dari seluruh desa di kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Nagan Raya, Rabu (24/12), menghadiri apel akbar membentuk Front Perlawanan Separatis GAM (FPSG). Mereka memadati lapangan bola kaki Kota Jantho dan lapangan Rajawali Jeuram tempat berlangsungnya upacara, dengan membawa bambu runcing dan menyatakan siap melawan GAM.

Di Aceh Besar, Ketua Front Perlawanan Separatis GAM Provinsi NAD, Sofyan Ali melantik Suhaimi sebagai Ketua Front Perlawanan Separatis GAM Aceh Besar. Acara itu, turut dihadiri Bupati Aceh Besar, Sayuti Is, Dandim 0101 Letkol Inf Djoko Warsito, Kapolres Aceh Besar, AKBP Drs Gaguk, pimpinan dan anggota DPRD, seluruh pegawai Pemda Aceh Besar dan seluruh Muspika Kecamatan.

Pada kesempatan itu, Tgk Husaini yang pupoler dengan panggilan Waled selaku pimpinan pesantren Seulimum, mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk membentuk satu barisan bersama FPSG untuk melawan kelompok separatis GAM. "Sudah banyak ulama Aceh menjadi korban keganasan GAM, seperti Prof Dr Safwan Idris, Tgk Ilyas Tanah Pasir, Imam Masjid Lambaro Tunong, lagi shalat dibunuh. Perutnya dibelah dan kemaluannya dipotong dan dimasukkan ke dalam mulut," kata Waled.

Disebut Waled, sekiranya perang ini perang suci, maka semua pimpinan pesantren akan naik gunung. "Coba lihat mana ada pimpinan pesantren yang naik gunung, karena perang ini bukan perang suci. Kita satu syahadah, satu nabi, satu kiblat, dan ketika kita tanya sama orang di Jawa mereka juga Islam dan satu akidah dengan kita di Aceh, dan bertempurlah kita sesama Islam. Ini disebabkan, kita sudah dibodohi orang bodoh. Kita sudah dijahili oleh orang jahil di bawah pimpinan Hasan Tiro yang beristrikan orang Jahudi. Apakah orang seperti itu yang akan kita ikuti," teriak Tgk Husaini dengan nada lantang.

Di Aceh, katanya, terjadi pertempuran sesama umat Islam. Ini bukan Syahid. Kalau mati wajib di shalat dikafani dan ditanam. Tapi anggota GAM yang mati bukan syahid. "Tidak ada syahid. Kalau ada yang menyatakan syahid, jumpa dulu dengan kami para ulama. Yang Syahid, hanya ada sewaktu perang melawan Belanda dan Jepang tempo dulu," tegasnya.

Menurut Waled, dengan datangnya pasukan TNI/Polri kemari, semua masyarakat kini sudah mulai bisa ke sawah. Oleh karena itu, semua masyarakat di Aceh harus bersatu padu melawan kelompok GAM.

Sementara itu, Ketua Front Perlawanan Separatis GAM Provinsi NAD menyatakan, seluruh masyarakat dari 20 kabupaten dan kota di Aceh, sudah bergabung dengan FPSG, dan semuanya telah sepakat untuk bersama-sama melawan GAM. Menurutnya. sekarang kita sudah tidak bisa berdiam diri lagi. "Kita tidak perlu ragu dan takut lagi. Mari kita tumbuhkan rasa percaya diri, bahwa kita juga mampu melawan separatis GAM. Walaupun hanya dengan menggunakan bambu runcing dan parang dan tombak," kata Sofyan Ali.

Dikatakan, Aceh kini memasuki Darurat Militer tahap kedua. "Adanya Darurat Militer di Aceh, karena kita sebagai rakyat yang memintanya kepada pemerintah pusat. Oleh karana itu mari kita dukung, dan bersatu dan saling membahu dengan TNI/Polri mengejar separatis GAM. Kita habisi sampai keakar-akarnya."

Secara terpisah, Ketua FPSG Aceh Besar, Suhaimi kepada Serambi mengatakan, bahwa Kamis kemarin ia telah melantik ketua FPSG Kecamatan Indrapuri bertempat di Desa Mai Sale. Acara pelantikan itu dihadiri unsur Muspika, seluruh kepala desa dan tokoh pemuda sekecematan Indrapuri.

"Setelah acara pelantikan itu, sekitar 800 pemuda bersenjatakan parang, tombak dan bambu runcing bersama-sama pasukan TNI, melakukan pengejaran ke sarang GAM gunung sekitar Mai Sale. Ini merupakan bukti, bahwa pemuda desa sudah kesal dengan kezaliman GAM," ucap Suhaimi.

Nagan raya

Sementara itu, Bupati Kabupaten Nagan Raya, Drs T Zulkarnaini menjanjikan, bila kondisi sudah aman, dalam waktu tiga tahun wajah Kabupaten Nagan Raya akan berubah. Untuk itu ia berharap anggota Gerakan Aceh Merdeka yang masih bersembunyi segera kembali agar bisa bersama-sama membangun daerahnya.

"Kabupaten Nagan Raya ini memiliki potensi dan sumber daya alam yang melimpah, tanah pertanian yang subur dan areal kebun sawit yang membentang luas. Bila semua potensi itu diolah dengan baik, saya jamin dalam waktu tiga tahun, wajah kabupaten ini akan berubah," kata Zulakrnaini di hadapan ribun peserta apel Front Perlawanan Rakyat Garuda Merah Putih di lapangan sepak bola Rajawali, Jeram, Rabu siang (24/12).

Gerakan Aceh Merdeka (GAM), kata bupati, sebagai sumber kebathilan harus dilawan secara bersama-sama oleh semua komponen masyarakat. Kebupaten Nagan Raya memiliki lima kecamatan dengan jumlah penduduk 142.000 jiwa. "Yang ka lupah jak riwang, yang ka leupah cok pulang (yang sudah telanjur pergi segera balik, yang sudah telanjur mengambil segera kembalikan-red)," kata bupati dengan menggunakan pepatah Aceh.

Menurut bupati, kelahiran front perlawan rakyat, selain untuk memerangi GAM juga untuk mempertahan NKRI. Front ini lahir murni aspirasi masyarakat Nagan Raya karena tidak tahan lagi atas teror dari GAM.

Pada kesempatan itu, Ketua DPRD Nagan Raya, Drs Syech Marhaban, menyatakan, bagi masyatakat/anggota front yang berani/berhasil merampas senjata GAM dan menyerahkan kepada TNI/Polri, maka Pemda setempat akan memberikan hadiah sebesar Rp 10 juta/pucuk. "Yang mendapat senjata GAM satu pucuk ditebus Rp 10 juta," ujar Syeh yang juga Ketua DPC F-PPP itu.

Di hadapan puluhan ribu massa dari lima kecamatan yakni Beutong, Seunagan Timur, Seunagan, Kuala dan Darulmakmur, Marhaban menegaskan, anggota wadah Garuda Merah Putih harus mempertahankan agar bendera merah putih tetap selalu berkibar di Nagan. "Saya mengharapkan kepada seluruh komponen masyarakat, agar merah putih tetap harus berkibar di Nagan Raya," tuturnya.

Sebagian dari ribuan peserta apel itu datang dengan membawa bendera merah putih dan bambu runcing yang juga sudah dilumuri cat warna merah putih.(kan/ism/as)

Hasil Pertemuan Komisi Pengaturan Keamanan (COSA) ke-31

PERNYATAAN PERS

Hasil Pertemuan Komisi Pengaturan Keamanan (COSA) ke-31

Banda Aceh, 12 Maret 2006

Pertemuan Komisi Pengaturan Keamanan (COSA) ke-31 diadakan hari ini di Banda Aceh. Pertemuan dipimpin oleh Ketua AMM Pieter Feith dan dihadiri oleh delegasi-delegasi dari Pemerintah Indonesia yang dipimpin oleh Jenderal Bambang Dharmono serta delegasi GAM dipimpin oleh Bakhtiar Abdullah. Gubernur Aceh Bapak Mustafa Abubakar juga menghadiri pertemuan ini.

Gubernur Aceh menyampaikan sebuah ringkasan seputar program reintegrasi untuk empat bulan kedepan. Pihak-pihak mendukung rencana dari program-program tersebut dan mendukung agar rencana itu dapat segera diimplementasikan.

Pemerintah Indonesia melaporkan kembali ke AMM tentang hasil penyelidikan insiden di Blangpidie (17/2) dan di Alue Leuhob (kecamatan Cot Girek) Lhokseumawe (24/2). Penyelidikan menunjukkan bahwa tidak ada kaitan antara Pemerintah Indonesia dengan insiden-insiden ini. AMM menghargai ketelitian dari penyelidikan yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dan menerima hasil dari penyelidikan tersebut. AMM meminta surat dari Pemerintah Indonesia selambatnya sebelum 15 Juni 2006 untuk mengkonfirmasikan pengimplementasian penuh terhadap pembubaran setiap kelompok atau pihak ilegal, sesuai dengan pasal 4 ayat 9 dari Nota Kesepakatan. Ketua AMM menginformasikan kepada pihak-pihak tentang pertemuan beliau dengan SIRA untuk memastikan kepatuhan SIRA terhadap Nota Kesepakatan.

Pihak-pihak membahas tentang penyerangan fatal oleh Polisi di Peudawa, Aceh Timur pada 6 Maret 2006. Semua pihak mengecam penggunaan kekuatan disproporsional oleh Polisi yang mengakibatkan kematian. Pemerintah Indonesia diminta untuk mengambil tindakan disipliner terhadap anggota Polisi yang terlibat dalam insiden tersebut dan menyampaikan atmosfir secara keseluruhan atas penggunaan kekuatan disproporsional.

Mengenai kasus amnesti yang tertunda, pihak-pihak menyatakan bahwa tugas ini telah mengalami kemajuan melalui pertemuan-pertemuan yang diadakan di Jakarta antara Pemerintah Indonesia dan GAM minggu lalu. Pemeriksaan terhadap kasus tertunda yang masih ada akan dilanjutkan.

Pertemuan COSA kali ini juga menyepakati untuk kembali membahas kantor-kantor GAM di tingkat kecamatan pada pertemuan COSA berikutnya.

Pertemuan COSA berikutnya akan diadakan pada hari Senin, 27 Maret 2006 jam 10.00 WIB.

_______________________________

For further information, please contact:
Jüri Laas, AMM Press Officer/Spokesperson (International Media) +62 813 750 864 08
Faye Belnis, AMM Press Officer/Spokesperson (National Media) +62 816 187 91 67
Aceh Monitoring Mission: Jalan Tgk. Abdul Rauf No. 10
KPA Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh 23111, INDONESIA

Friday, June 5, 2009

sumpah serapah

omong kosong!! tak tau malu!! memalukan!! sampah!! itulah beberapa kata yang keluar ketika saya menyaksikan pertandingan indonesia melawan thailand yang berkesudahan 2-1 untuk tuan rumah thailand.. inilah titik nadir persepakbolaan negeri ini sekaligus mencerminkan bagaimana kondisi negara yang kian hari kian jatuh dalam ke jurang keterpurukan..

ya, hasil seri yang hanya dibutuhkan timnas untuk lolos ke babak semifinal sea games 2007 gagal diraih,, mereka bermain tanpa determinasi dan semangat juara.. sungguh menyesakkan hati.. thailand yang sudah lolos ke babak berikut ternyata tidak terpikir untuk bermain mata menyelamatkan muka timnas kita..

mereka bermain dengan keinginan untuk menang lebih besar dari timnas kita,, motivasi mereka berlipat ganda untuk merayakan ulang tahun raja mereka.. kesimpulannya, kita memang tidak pantas menang, apalagi lolos.. hasil “hanya” menang 3-1 lawan kamboja, dan ditahan imbang myanmar ternyata tidak sanggup membawa tim kita ke babak berikut.. sia-sia lah training camp ke argentina dan pelatihan-pelatihan omong kosong lainnya!!

kondisi ini semakin memperparah mental kontingen indonesia.. sepak bola yang dianggap tumpuan untuk meraih kebanggan lepas sudah,, sudah terbiasa, rakyat negeri ini memang terkadang tidak peduli dengan cabang lain, asalkan kita jadi juara di sepak bola,, tapi faktanya, kita hancur lebur di kedua-duanya!! sampai tulisan ini di-published, indonesia masih terperosok di peringkat ke 7 di bawah filipina, myanmar, dan malaysia, yang di atas kertas, masih di bawah negara kita..

bagaimana kondisi di dalam negeri?? tak jauh berbeda!! negeri ini seperti diserang penyakit multidimensi berkepanjangan yang seperti tak ada akhirnya,, belum lagi masalah yang datang dari negara lain,, ah, jika negara ini diibaratkan dengan seorang manusia, maka manusia itu sekarang dalam kondisi sekarat, seperti tak ada harapan hidup, mati segan, hidup pun tak mau..

mau jadi apa negara ini jika rakyatnya tidak memiliki kebanggan dengan negaranya sendiri, tak ada rasa kepemilikan, apalagi rasa nasionalisme!! rasa kebanggan itu tidak bisa dibeli, tapi datang dari hati yang paling dalam.. tapi, jika rasa itu tidak tumbuh di benak sebagian besar rakyat, mereka tidak salah,, negara ini seperti kehabisan akal untuk memberikan status, predikat, atau prestasi yang bisa dibanggakan..

for better indonesia!!

Wednesday, May 20, 2009

DEMAM BERDARAH ACEH

Serambi Indonesia
senin,15 Mei 2006
Demam Berdarah Landa Abdya


--------------------------------------------------------------------------------

BLANGPIDIE - Jangkitan virus deman berdarah dengue (DBD) muncul di Aceh Barat Daya (Abdya). Sedikitnya dua orang warga kabupaten itu dirawat intensive di RSUD Abdya, kemarin. Sementara di Banda Aceh, jangkitan itu tetap masih menggejala, walau pihak rumahsakit mengaku tak merawat pasien DBD.



Dua warga Abdya yang positif DBD adalah, Dasmi Zulfa (30) warga Desa Palak Hilir Kecamatan Susoh, dan Zulna Elida (21) warga Sikabu Kuala Batee. Seiring munculnya jangkitan itu, pihak Dinkes Abdya, langsung melakukan fogging pada lokasi tinggal pasien, sebagai upaya memutuskan mata rantai kehidupan nyamuk aedes agypty, media tular demam berdarah.

Dr Mawardi, tim medis RSUD yang menangani kasus itu kepada Serambi mengatakan, pihak RSUD Abdya sempat merawat pasien diserang DBD, yaitu Dasmi Zulfa warga Desa Palak Hilir Susoh, dan Zulna Elida warga Sikabu Kuala Batee.
Dari hasil diagnosa yang dilakukan Dasmi Zulfa dinyatakan positif terjangkit DBD. Sementara Zulna Elida yang juga sempat dirawat selama enam hari dan kini sudah kembali kepada keluarganya.

Sementara Kadis Kesehatan Abdya, Drs M Hanafiah AK yang dihubungi Serambi secara terpisah mengaku bahwa sudah menerima laporan dari pihak RSUD, dan kini pihaknya sudah melakukan foging di sekitar tempat kejadian dengan radius 100 meter.

Sebelumnya, seorang warga Desa Meudang Ara Blangpidie yang menderita DBD terpaksa dirujuk ke RSU Cut Nyak Dien Meulaboh, Aceh Barat, namun akhirnya meninggal dalam perawatan medis.

Ngaku nihil
Jangkitan demam berdarah masih saja melanda Banda Aceh dan sekitarnya. Daerah-daerah rawan DBD sejauh ini masih saja memakan korban DBD. Beberapa rumah sakit yang dicek oleh Serambi, kemarin petang, mengaku pernah merawat pasien DBD sepekan sebelumnya, namun kini telah keluar. “Kami memang ada merawat pasien DBD bulan ini, namun kini telah kembali ke rumah mereka dalam kondisi sembuh,” ujar seorang perawat di RS Teungku Fakinah.

Komentar yang sedikit menggelikan dilontarkan petugas di RS Harapan Bunda. Seorang tenaga para medis di rumah sakit itu mengaku selama bulan ini, tidak pernah merawat pasien DBD. “Kalau bulan ini, belum ada,” kata petugas wanita di sana, sembari membalik-balik buku record pasien.

Pengakuan tersebut sangat bertolak belakang dengan kenyataan, karena seorang warga Lambhuk hingga kini masih dirawat di RS Harapan Bunda, karena positif DBD. Bahkan pasien yang dirawat di ruang Tulip itu sebelumnya juga pasien DBD dari keluarga yang sama.

Saifil S, kepala keluarga si pasien menghendaki agar pihak Dinkes segera turun tangan untuk melakukan fogging di daerahnya. “Kami sangat berharap agar pihak terkait melakukan fogging untuk mencegah jatuhnya korban yang lain. Kalau pun harus melapor, kamana saya melapor, yang penting fogging dilakukan, agar warga sekitar kami bisa tenteram,” katas Saifil.

ABDULAH SYAFI`I

Mogok Massal Di Aceh Berdarah, 12 Tewas, 2 Kritis


Serangkaian kekerasan bersenjata dan penemuan mayat korban kekerasan mewarnai hari pertama mogok massal di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Peristiwa itu merengut 12 nyawa dan melukai dua TNI. Korban tewas di Pidie empat orang, Bireuen dua orang, Aceh Utara empat orang dan seorang kritis serta Aceh Timur dua orang. Selain itu di Aceh Selatan seorang sopir angkutan kota dilaporkan kritis. Di Pidie, kekerasan bersenjata terjadi di daerah Seulawah yang masih masuk dalam kawasan Kec. Laweung dengan ditemukan dua mayat laki-laki tanpa identitas di pinggir jalan negara Banda Aceh-Medan pada Selasa (15/1) malam. Mayat berluka tembak dan bacok itu segera dibawa ke ruang instalansi mayat RSU Sigli dengan menggunakan mobil ambulans Puskesmas Muara Tiga. Pada mayat pertama yang berusia 35 tahun dengan kulit sawo matang didapati luka besar di tengkuk belakang serta luka bakar di lengan sebelah kiri. Mayat kedua dengan ciri-ciri memiliki tinggi tubuh 160 cm, berusia sekitar 28 tahun, berkulit sawo matang serta memiliki kumis dan jenggot. Pada mayat ini didapati luka tembak pada kening sebanyak dua tempat yang mengakibatkan tempurung kepalanya pecah, serta luka bakar pada tangan sebelah kanan, saat ditemukan korban hanya menggunakan celana pendek warna biru. Kejadian bersenjata kedua terjadi di Desa Geupung Ujong Rimba, Pidie. Kejadiannya bermula ketika sepasukan TNI dari Yonif 310 dan 315 Siliwangi mengadakan patroli bersepeda motor ke arah Beureunun Rabu pagi. Sesampainya di Desa Geupung tiba-tiba dari arah depan mereka datang dua orang laki-laki dengan mengendarai sepeda motor merk Supra yang langsung berbalik arah ketika melihat pasukan TNI datang. Karena curiga pasukan yang dipimpin Sertu Siswan Afandi melakukan pengejaran, namun ketika dilakukan pengejaran orang di atas sepeda motor sambil menjatuhkan kenderaannya melakukan penembakan. Mendapatkan serangan ke sepuluh anggota TNI itu segera membalas yang menyebabkan salah seorang dari penumpang sepeda motor itu tewas, melihat rekannya tewas, seorang dari penembak itu segera melarikan diri ke rumah penduduk. Pasukan gabungan TNI itu terus melakukan pengejaran sampai memasuki satu rumah warga Desa Geupung. Saat melakukan penggeledahan dalam rumah itu, Praka Sutarji ditembak dari bawah kolong tempat tidur yang mengenai paha kirinya. Sedangkan Serda Agus Sutio juga mengalami luka di pinggang kiri akibat serpihan peluru yang ditembakan pengendara sepeda motor yang diduga prajurit GAM. Kedua pengendara motor itu tewas ditembak, sedangkan dari tangan korban didapati senjata laras pendek jenis AFC 350, Colt 38 buatan USA beserta 13 amunisinya. Korban bernama Abdul Kadir, 26 warga Masjid Geupung, Beureunun, Kec. Mutiara Timur, sehari-hari berprofesi sebagai supir, korban kedua bernama Nurdin Samsul Bahri, 21, warga Desa Empeh,kecamatan yang sama. Sementara itu suasana kota Sigli dan beberapa kota kecamatan lain yang berhasil Waspada pantau terlihat sangat sepi, tidak ada aktifitas masyarakat, semua pertokoan tutup. Semua sekolah dan kantor juga terlihat tutup, tidak ada satupun kendaraan angkutan umum yang bersileweran di jalan raya. menurut petugas salah satu loket bus di terminal Sigli, bus terakhir yang masuk ke terminal Sigli pada pukul 22.30.

Di Bireuen

Meskipun pihak pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) telah melakukan seruan agar aksi mogok yang diberlakukan GAM 16-18 Januari tidak dihiraukan ternyata aksi mogok berlangsung juga. Menjelang aksi mogok hari pertama pada Selasa Malam , seorang wanita Kasmiati binti Hanafiah, 49, warga Desa Cot Bada Blang Bladeh, Kec. Jeumpa Bireuen ditemukan warga tewas ditembak OTK di kediamannya usai melaksanakan Shalat Magrib. Beberapa saksi mata tetangga korban menyebutkan pada malam naas itu korban yang baru selesai melaksanakan Shalat maghrib di rumah kediamannya keluar ke depan rumahnya. Dalam kegelapan malam tiba-tiba terdengar dua kali letusan senjata api di depan rumah korban. Mendengar letusan senjata api warga sekitarnya dicekam ketakutan, sesaat kemudian terdengar suara gaduh anak-anak korban menangis minta tolong kepada tetangga. Beberapa tetangga terdekat dalam keadaan ketakutan berdatangan melihat apa yang terjadi. Setiba di sana, warga melihat Kasmiati tewas terkapar bersimbah darah di depan rumahnya. Di tempat terpisah Rabu pagi, warga Geulumpang Payong, Kec. Jeumpa digemparkan lagi dengan satu mayat laki-laki bernama Syukri bin Hanafiah, 43, warga Desa Geulumpang Payong Kecamatan yang sama ditemukan tewas ditembak OTK di sebuah pondok areal persawahan Geulumpang Payong, korban adalah adik kandung janda Kasmiati. Tim Siaga PMI bersama tim medis RSU setempat segera meluncur ke TKP mengevakuasi mayat korban ke rumah keluarganya Desa Geulumpang Payong untuk dikebumikan. Sumber Waspada, mengatakan selepas shalat maghrib korban dijemput OTK dirumah kediamannya kawasaan Beng Seuri Geulumpang Payong lalu dibawa entah ke mana. Pagi harinya korban ditemukan sudah menjadi mayat dengan kondisi sangat menggenaskan dengan luka tembak tembus di bagian kepala. Sementara korban ketiga seorang pemuda bernama M Ali, 25, warga Blang Bladeh yang ditembak hingga kritis sekitar pkl 16.00 petang kemarin. Korban kini dirawat di RSU dr Fauziah Bireuen. Suasana Kota Bireuen dan sekitarnya Rabu pagi hingga petang harinya lengang. Transportasi darat angkutan bus penumpang, angkutan barang, trayek antar kecamatan, kabupaten dan antar provinsi mogok total, bahkan ratusan penumpang bus umum trayek Banda Aceh Medan sejak Selasa malam masih terkatung-katung.

Di Aceh Utara

Hari pertama mogok massal di Kab. Aceh Utara di warnai dengan daerah menyusul empat orang ditemukan tewas berluka tembak, Rabu. Keterangan yang diperoleh Waspada dari petugas UGD RSU Cut Meutia Lhokseumawe menyebutkan, dua sosok mayat laki-laki diantar oleh tim Satgana PMI Cabang Lhokseumwe pukul 07:10 dengan kondisi sangat mengenaskan. Selain kepala remuk yang masih berdarah segar, tubuh korban penuh luka lecet dan robek dengan sejumlah lubang bekas tembakan.

Kedua mayat masing-masing bernama Marzuki, 27, dan Hasballah 30. Keduanya warga Keude Dua, Kandang, Kec. Muara Dua, Lhokseumawe. Dievakuasi oleh Satgana PMI dari TKP Desa Panggoi. Sementara Ilyas, 35, warga desa yang sama juga ditemukan tewas berluka tembak di TKP Kedua Dua Kandang. Korban langsung diambil keluarganya, yang berdomisili tidak jauh dari TKP. Sedangkan Wandi, 25, warga Samalanga, Bireuen, ditemukan tewas dengan tangan kiri putus diterjang bom. Keterangan PMI menyebutkan, korban sudah dijemput keluarganya dari TKP dekat Masjid Batuphat, Kec. Muara Dua. Kondisi korban, selain putus tangan kiri, juga penuh luka bakar akibat pecahan bom dan jari tangan kanan copot. Satu lagi korban lainnya berasal Dari Alue Ie Puteh, Kec. Baktiya, Aceh Utara dilaporkan Mahyuddin Bin Usman, 26, kritis kena hantaman bom. Keterangan yang diperoleh Waspada dari tim Satgana PMI Lhokseumawe menyebutkan, Mahyuddin warga Desa Matang Kumbang, Kec. Baktiya, ditemukan warga terkapar di kawasan desa setempat setelah tubuhnya disapu ledakan bom, sekitar pukul 17:00 Rabu. Suasana mogok hari pertama kota Lhokseumawe dan sekitarnya terlihat lengang. Aktivitas transportasi lumpuh total. Jangankan angkutan umum, mobil pribadi dan becakpun tidak ada yang beroperasi seperti hari-hari biasa. Kantor-kantor pemerintah, swasta, sekolah-sekolah, dan pertokoan tampak sepi dari aktivitas. Sejak malam hingga pagi kemarin warga kota Lhokseumawe mulai diguncang beberapa ledakam bom. Sehingga tidak ada warga yang berani menjalankan rutinitas sebagaimana biasa. Lebih-lebih pada paginya, sejumlah aparat melepaskan tembakan ke udara untuk memberanikan para pemilik toko membuka tokonya. Namun masyarakat dan pemilik toko menjadi takut begitu mendengar tembakan. Sehingga terpaksa membuka tokonya dengan rasa was-was setelah digedor-gedor aparat. Setelah toko-toko dibuka, aparat keamanan melakukan patroli dan menjaga sudut-sudut kota Lhokseumawe dalam kondisi siaga. Sampai sore hari mobil patroli masih memantau beberapa kawasan kota dengan mengerahkan satu kenderaan lapis baja, sejumnlah truk militer, serta pasukan infanteri. Pantauan Waspada mulai dari kota Pantonlabu, Lhoksukon, Geudong, Bayu, sampai Punteut sepanjang jalan raya Medan - Banda Aceh terlihat lengang tak ada kenderaan yang berani berlalu lalang. Dari Pantonlabu dilaporkan, warga melakukan doa dan baca yasin bersama di Masjid Baitul Gafur, Desa Matang Diren. Selebihnya suasana tetap sepi, toko-toko di pusat kecamatan dalam Kabupaten Aceh Utara umumnya tutup. Akibat tidak beroperasinya kenderaan umum seperti labi-labi dan becak, membuat suasana Aceh Utara lumpuh total.

Di Aceh Timur

Sementara itu dari Aceh Timur dilaporkan dua mayat tanpa identitas yang dievakuasi anggota Satgana PMI Langsa dari Alue Lhok dan Senebok Pidie, Kec. Peureulak, Kab. Aceh Timur masuk RSU Langsa, Rabu siang. Keterangan yang Waspada peroleh dari PB HAM Aceh Timur, Rabu malam menyebutkan, kedua mayat itu diambil dari tempat temuannya sekira pukul 04 :00 dini hari, setelah dimasukkan ke ruang jenazah di RSU Langsa hingga malam tadi belum ada yang mengambilnya. Adapun ciri-cirinya, yang ditemukan di Simpang Makmu Alue Lhok Tinggi sekitar 175 cm, kulit sawo matang, memakai sarung warna putih tanpa celana dalam, rambut ikal, dan ada tahi lalat dibagian punggung. Ketika ditemukan sudah menjadi mayat dengan kondisi tangan terikat ke belakang, dan terdapat luka tembakan di dagu bawah sebelah kanan, pelipis kanan, kepala dibagian atas tembus ke bawah, serta bekas luka bakar di bagian punggung. Sedangkan mayat kedua yang ditemukan di Seunebok Pidie tinggi sekitar 170 cm, rambut petak sekitar 4 cm, memakai baju kemeja panjang warna biru, celana merk Lega, luka tembak di kepala bagian belakang, paha sebelah kanan, dan punggung serta mata sebelah kiri lembam. Sementara suasana kota Langsa sepanjang Rabu sejauh pantauan Waspada, keadaan normal tidak ada gangguan yang berarti sehubungan hari pertama himbauan GAM untuk mogok total. Kecuali jalanan yang agak sepi karena tidak ada kenderaan unum atau pribadi yang melakukan perjalanan jauh, selebihnya semua berjalan seperti biasa. Semua toko-toko dan kedai-kedai tetap buka dan tidak terjadi kenaikan harga barang, baik untuk sembilan bahan pokok maupun barang-barang kebutuhan lainnya.

Di Aceh Selatan

Sementara itu peristiwa lainnya yaitu dua insiden di Aceh Selatan. Kejadian yang berlangsung di dua lokasi terpisah dan dalam waktu hampir bersamaan itu mengakibatkan seorang sopir labi-labi ditembak dan sebuah mobil dibakar. Menurut keterangan yang berhasil Waspada peroleh, insiden pertama menimpa Abdullah, 32, warga Alue Pisang Kec. Kuala Batee ditembak di kawasan Desa Sikabu kecamatan yang sama Rabu siang. Hingga Rabu malam korban masih dirawat di Puskesmas Blang Pidie karena sebutir timah panas yang dilepas OTK masih bersarang di dagunya. Korban saat kejadian sedang menjalankan mobilnya dari arah Kuala Batee menuju Blang Pidie. Akan tetapi tidak seorangpun warga masyarakat yang menumpang karena ketakutan. Korban bersama keneknya yang duduk di depan, tiba-tiba diberondong OTK dan mengenai dagunya. Sedangkan keneknya yang belum jelas identitasnya selamat. Sementara itu dalam insiden lainnya, mobil pribadi jenis Panther milik Sekretaris Bappeda Aceh Selatan Drs.H.M.Nafis dibakar massa tak dikenal di kawasan desa Ujung Padang Rasian Kecamatan Kluet Utara. Sedangkan sebuah mobil lainnya jenis L-300 yang berbarengan dirusak. Namun semua penumpang kedua mobil itu selamat. M.Nafis bersama sekeluarganya siang itu sedang meluncur dari Medan pulang ke Tapaktuan. Tiba di lokasi ditahan oleh massa tak dikenal dan setelah seluruh penumpang disuruh turun, kemudian mobil bersama barang-barangnya hangus disikat sijago merah. Sebelumnya rombongan itu telah mendapat beberapa peringatan di kawasan Trumon, agar menghentikan perjalanan di atas jam enam pagi. Namun rombongan itu tetap meneruskan perjalanannya karena berbarengan dengan beberapa mobil penumpang lainnya dari Medan ke jurusan yang sama. Aparat keamanan yang berposko di sana bersama aparat Marinir dari Tapaktuan yang menerima laporan pembakaran mobil itu langsung meluncur ke lokasi guna mengevakuasi korban. Rombongan sekeluarga itu dan sebuah penumpang lainnya telah dievakuasi ke Tapaktuan pada sore harinya. Wadan Satgapen Kolakops TNI Mayor Inf. Ertoto kepada Waspada, Rabu malam menyebutkan, pembakaran mobil dinas tersebut terjadi di Desa Poni Rasian, Kecamatan Kluet Utara, Aceh Selatan. "Setelah kejadian, korban langsung melapor ke Pos Aparat terdekat, dan pelakunya kini sedang dalam penyelidikan," ujarnya.

Blang Pidie

Sementara itu juru Bicara Angkatan Gerakan Aceh Merdeka Wilayah Blang Pidie Ayah Manggeng mengklaim, 10 anggota TNI dan Polri tewas dalam penyerangan dilakukan pasukan AGAM, saat berpatroli ke Desa Baharu, Kecamatan Blang Pidie, Kabupaten Aceh Selatan, Rabu pagi. Dia menyebutkan, delapan aparat yang tewas dalam kejadian tersebut mengenderai sepeda motor, sedang yang dua lagi mengenderai mobil Kijang warna putih. "Sedang di pihak AGAM berhasil kembali dengan selamat," ujarnya.

Menurutnya, ekses dari kejadian itu satu warga sipil yaitu Manaf bin Sudi, 25, warga desa setempat tewas ditembak oleh aparat. "Tembakan yang dilepaskan aparat itu mengenai bagian kepala korban," ujarnya lagi. Ayah Manggeng juga mengatakan, selain menembak korban, aparat juga menangkap dua warga sipil lainnya yaitu Jamaluddin ,40, dan Sahmi, 35, penduduk desa yang sama. Mengenai insiden itu, Dansatgaspen Opslihkam Agus Dwiyanto membantah kejadian itu. "Tidak ada insiden di Blang Pidie kecuali di Peureulak, satu GAM tewas saat menyerang Polsek," jelasnya.

Di Aceh Besar

Sementara itu, dari Kabupaten Aceh Besar diperoleh keterangan satu unit labi-labi (Angkutan Kota), ditembak oleh kelompok GAM karena kedapatan melakukan aktivitas mengangkut penumpang. Namun tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Dansatgaspen Opslihkam AKBP Drs. Agus Dwiyanto yang Waspada hubungi via telefon, membenarkan pihaknya mendengar kejadian itu. "Namun saya belum memperoleh kronologisnya, yang jelas tidak ada korban jiwa dalam insiden itu," ungkapnya.

Diblokir
Sementara itu keterangan lainnya menyebutkan jalan raya jurusan Tapaktuan-Medan Rabu sore mulai diblokir dengan cara menumbangkan puluhan pohon kelapa di kawasan Desa Pasi Lembang Kecamatan Kluet Selatan. Dengan pemblokiran itu menyebabkan hubungan kedua daerah itu menjadi putus total. Hingga Selasa malam belum diperoleh keterangan apakah perintang pohon kelapa itu telah dibersihkan atau belum. Dari berbagai peristiwa itu terlihat seruan Panglima GAM Abdullah Syafie untuk mogok massal tanggal 16 hingga 18 Januari 2002 telah menciptakan keadaan lumpuh di seluruh wilayah Aceh. Meskipun ada seruan anti mogok oleh Gubernur NAD Abdullah Puteh yang meminta rakyat Aceh tetap menjalankan aktivitas, namun tampaknya rakyat lebih takut dengan seruan Abdullah Syafie ketimbang seruan Abdullah Puteh. Sehingga mogok massal tak dapat terelakkan. Sementara itu Dansatgaspen Kolakops TNI Mayor Inf Zaenal Mutaqin kepada Waspada malam tadi menyatakan jika seruan mogok itu sama sekali tidak berlangsung."Aktifitas masyarakat berjalan seperti biasanya," tulis Zaenal. Dia selanjutnya menyatakan jika ledakan bom itu merupakan upaya GSA menakut-nakuti masyarakat agar ikut mogok

sumber: Waspada.com

Pageviews last month